# (O)RISIN

By [#HRTS](https://paragraph.com/@hrts) · 2023-05-13

---

`Usai gelap menguasai, semesta kemudian memuntahkan kembali segala isi ruang hampa. Terlempar menjauh, namun saling menali tanpa perlu nampak. Dalam cahaya nya yang kuasai jagad, teruntai gelombang kekacauan yang terlalu kecil untuk diinderai. Menjauh, dan terus melebar. Hingga purna cahaya, barulah titik-titik pelita bermunculan; menarik segala di sekitarnya berputar menyeimbang.`

`Dalam redam, bangkit zat yang sebelumnya membeku dalam kekosongan pejal. Ia untai semesta bak mycelium pada belantara hutan. Ia menata segala kekacauan kuantum hingga segalanya saling menyempurna dalam siklus yang tak kenali ujung. Ialah awal dan akhir, yang mengada sebelum ada. Ia ada yang tiada; isi yang kosong juga kosong yang berisi. Ia adalah segala wujud juga yang tak wujud; segala yang membentuk semesta ini dalam dawai yang terus bergetar. Zat yang kita pahami sebagai Tuhan.`

`Di penghujung penciptaan, tumbuhlah benih sporokarp yang akan wujudkan kesadaran utuh; berakal dan bernafsu. Sepasang kesatuan adikodrati yang saling melengkapi; gelap dan terang, membuahi dan dibuahi. Entitas yang kelak mewujud dan menyemai. Mereka namai keduanya Adam dan Hawa.`

`Sebelum menitis, Tuhan bubuhkan cinta di antara mereka dalam skenario sempurnanya. Ia tempatkan ruh keduanya dalam taman yang tak miliki ujung; Pada pusat taman tersebut, tumbuhlah sebuah pohon besar yang diberkahi buah. Mereka bebas lakukan apapun, namun jangan sekalipun memakan buah dari pohon tersebut.`   

`Tak terukur waktu yang mereka habiskan dalam taman itu. Sukacita menjalar berkat bersatunya jiwa yang sepasang. Tak terjelaskan rasa bahagia yang hinggapi mereka berkat rasa utuh dan saling melengkapi. Rindu bumbui harap yang membubung; sedang kayas warnai segala rengkuh yang bersemi. Keduanya bahagia.`

`Namun dalam pandang yang serupa sabana, jemu tak ayal hinggapi mereka. Terhasut oleh rasa penasaran, Hawa tergoda untuk cicipi buah terlarang itu. Apa yang berbeda darinya hingga Tuhan harus melarangnya? Hawa tenggelam dalam rasa ingin tahu. Ingin ia cicipi buah tersebut, namun ia tak bisa melakukan hal itu tanpa kesepakatan Adam. Terlebih, ia tak mungkin mencicipinya tanpa mengajak Adam turut serta. Hingga suatu ketika, Hawa mencetuskan besarnya rasa ingin tahu yang melanda dirinyanya. Kehendak yang menimpanya dalam runtuh rasa tak cukup.`

`Adam yang diam-diam turut memendam rasa ingin yang sama tergugah oleh perasaan Hawa. Dari beragam hal yang bisa ia lakukan, mengapa hanya buah ini yang begitu terlarang? Kemerdekaannya terasa tak utuh. Lebih lagi, keinginan Hawa menambah beban kegelisahan yang Adam rasakan; akankah Hawa berbahagia jika ia bawakan buah tersebut?`

`Bimbang melanda benak Adam serupa badai. Akankah ia –di hadapan Tuhannya— rela memenuhi keinginan Hawa? Akankah ia rela korbankan segalanya demi perasaan ingin membahagiakan yang tak bisa dimengerti? Akankah ia rela berkorban tanpa pernah sedikitpun menyesal? Akankah ia rela menderita tanpa keluh? Akankah ia rela?`

`Tanpa bahasa, kehadiran Hawa meyakinkan tekadnya; kukuhkan keberaniannya. Baginya, tak cukup bila tak bisa penuhi segala keinginannya. Dengan gegap Adam dekatkan dirinya dengan pohon tersebut. Ia raih buah yang balam dan puntir hingga terlepas dari tangkai. Adam tatap buah tersebut lekat-lekat; akankah ia rela?`

`Dalam genggamnya, Adam bawakan buah tersebut dan letakannya pada pangkuan Hawa. Kemudian, ia belah buah itu sama rata. Adam mengisyaratkan dirinya untuk memakan lebih dulu; memastikan tak ada hal buruk yang akan menimpa mereka. Perlahan, Adam mengunyah buah tersebut dan menikmati rasa yang awam ia kecapi. Hawa segera menyusul; tergoda oleh Adam yang nampak baik-baik saja. Rasa manis serta kecut masam penuhi diri mereka sebagai kenikmatan yang tak pernah sebelumnya mereka cecap. Namun kenikmatan hanyalah sesaat; keduanya terhentak oleh detak yang timbul di bagian kiri dirinya. Segumpal darah muncul menyertai aglutinasi yang terjadi. Mereka terhenti oleh detak yang tumbuh menggugah waktu.`

`Dalam dentum-dentum yang timpai keduanya, terdengar suara lantang dalam diri mereka. Gemuruh getar yang kian lama membentuk kata dan berbisik.`

`“Kalian telah melanggar. Sebagai hukuman, Aku kutuk kalian dengan cinta. Maka turunlah ke dunia.”`

---

*Originally published on [#HRTS](https://paragraph.com/@hrts/o-risin)*
