<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
    <channel>
        <title>Pandu Firdaus</title>
        <link>https://paragraph.com/@pandu-firdaus</link>
        <description>Director, Artist, and Human.</description>
        <lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2026 15:23:59 GMT</lastBuildDate>
        <docs>https://validator.w3.org/feed/docs/rss2.html</docs>
        <generator>https://github.com/jpmonette/feed</generator>
        <language>en</language>
        <image>
            <title>Pandu Firdaus</title>
            <url>https://storage.googleapis.com/papyrus_images/ef36e1c655f375ad0888aaa510f9f090d442ae5277bdcc87c07704ecf070094b.jpg</url>
            <link>https://paragraph.com/@pandu-firdaus</link>
        </image>
        <copyright>All rights reserved</copyright>
        <item>
            <title><![CDATA[Ikan]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@pandu-firdaus/ikan</link>
            <guid>ImIR9Qd9xLcxc0INLu1k</guid>
            <pubDate>Fri, 27 May 2022 03:37:56 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Progresif. Di liminasa media sosial bertebaran status Whatapp yang di ketahui dari seorang guru, bernama Bu Nani. Isinya tentang segala perihal unek-uneknya menyoal kompetensi anak di sekolah yang terangkum dalam nilai rapor, inti dari deretan status tersebut bisa di sederhanakan menjadi satu kata: percaya. Karena penasaran, ku coba mencarinya di internet dengan kata kunci “Bu Nani”. Muncul hal serupa yang ada di media sosial, namun ternyata beberapa website telah mengunggahnya 3 tahun lalu, ...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Progresif. Di liminasa media sosial bertebaran status Whatapp yang di ketahui dari seorang guru, bernama Bu Nani. Isinya tentang segala perihal unek-uneknya menyoal kompetensi anak di sekolah yang terangkum dalam nilai rapor, inti dari deretan status tersebut bisa di sederhanakan menjadi satu kata: percaya.</p><p>Karena penasaran, ku coba mencarinya di internet dengan kata kunci “Bu Nani”. Muncul hal serupa yang ada di media sosial, namun ternyata beberapa website telah mengunggahnya 3 tahun lalu, di tahun 2019. Fenomena kenapa bisa kembali trend lagi adalah perkara lain. Serupa kesuksesan yang selalu berulang, begitupun dengan motivasi. Yang berubah hanyalah salurannya, namun konteksnya masih akan tetap sama.</p><p>Secara eksplisit, keluh-kesah guru tersebut sangat menggambarkan keresahan orangtua minoritas yang mendukung bahwa seorang anak mempunyai bakatnya yang berbeda-beda, kenapa harus pukul rata di pelajaran tertentu?. Kenapa harus ada ranking, atau murid &quot;teladan&quot; dengan nilai sempurna. Dunia begitu luas, kita tak pernah tahu ilmu komputer (coding) akan menjadi sebuah pekerjaan di masa depan, bahkan telah mengambil alih dunia ini melalui kanal sistem informasi, atau bahkan menjadi salah satu disiplin ilmu utama untuk menerbangkan roket ke Mars, membuat koloni manusia baru di sana.</p><p>Tapi, berbeda bagi kelompok mayoritas yang percaya jika anaknya mempunyai nilai jelek, mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat, atau bila sedikit beruntung akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan dengan nilai gaji pas-pasan, menaikan derajat keluarga akan sulit tercipta. Beban di tanggung semuanya oleh anak, nilai rapor menjadi harapan-harapan kesuksesan di masa depan. Ini seperti perjudian, saat dadu di lempar belum tentu angka yang di harapkan keluar.</p><p>Aku selalu yakin bahwa semua keputusan yang kita ambil bersumber dari referensi, yang akan membangun sebuah knowledge (pengetahuan). Akan sulit memaksa seorang ayah yang berprofesi sebagai pedagang nasi goreng untuk mengkalkulasi bahan bakar peluncuran roket. Begitu pula sulit untuk menuntut anak mendapatkan nilai sempurna, jika mereka tak pernah di kenalkan bagaimana dunia ini bekerja.</p><p>Sejak dini kita tidak pernah di perkenalkan jika ada seorang arab menulis buku kedokteran modern pertama, bernama Ibnu Sina. Di waktu yang sama, daerah Skandinavia masih perang menghunus tombak dengan jirah besi, disebut sebagai bangsa Viking yang sekaligus mencipta partitur musik pertama. Atau buku Mukadimah yang menjadi pegangan para pakar sosiolog (ilmu sosial), buku yang di tulis oleh historian besar bernama Ibnu Khaldun. Di waktu yang sama pula Eropa sedang dalam periode keemasan yang di kenal sebagai masa Renaissance, dari sana kita tahu bagaimana sebuah keindahan di tafsirkan. Daerah Asia? kertas pertama di pintal dari serat batang ganja di China. Indonesia sendiri? Nenek moyang kita memang seorang pelaut, mereka membelah samudra ke Afrika Selatan bermodalkan ilmu astronomi.</p><p>Kini, apa yang para orangtua harapkan ternyata hanya nilai bagus untuk semua pelajaran, tak ada pengetahuan yang bersumber dari referensi sebagai acuan. Di tambah opini publik yang menjadi bara dalam sekam, bahwa nilai anak adalah cermin dari keluarga di masa depan. Kemampuan dari bakat anak yang menyukai Ilmu Pasti bisa berkurang hanya karena nilai keseniannya harus bagus juga. Begitupun sebaliknya. Kita melewatkan fase di mana bakat dari anak dapat menjadi penerus/pencipta ilmu pengetahuan baru. Membawa ide-ide baru. Jadi sebenarnya sederhana, yang kita harus yakini hanya satu; percaya kepada mereka untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.</p><p>Sewaktu Einstein masih kecil, ia sudah mendapat masalah, yaitu di keluarkan dari sekolah, ibunya tidak memarahi namun membimbing keingintahuan anaknya. Disanalah peran orangtua untuk yakin dan percaya bahwa ikan tak pernah memanjat pohon, tak pernah pula mahir merayap seperti cecak. Namun, ikan begitu cakap untuk berenang bebas, separti imajinasi anak yang tak pernah terbatas.</p>]]></content:encoded>
            <author>pandu-firdaus@newsletter.paragraph.com (Pandu Firdaus)</author>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Meja]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@pandu-firdaus/meja</link>
            <guid>VEAng9fqJOsy6Hd0a4TV</guid>
            <pubDate>Fri, 27 May 2022 03:36:52 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Kami memutuskan untuk bertemu di tempat kopi sekitaran Cipanas. Pertemuanku kali pertama dengannya lagi setelah beberapa tahun, Ia tetap ceria seperti biasa, bercerita berbagai macam hal, pekerjaan, kehidupan, atau mengingat kembali masa-masa kecil yang sedikit terlupa hingga masa-masa ketika SMA. Kemudian ku putuskan rasanya harus memesan camilan yang serupa dengannya. Oh ya, kami pun foto berdua, Ia bilang: biasanya kalau orang yang dekat sudah bertahun-tahun bahkan dari kecil, sering kali ...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Kami memutuskan untuk bertemu di tempat kopi sekitaran Cipanas. Pertemuanku kali pertama dengannya lagi setelah beberapa tahun, Ia tetap ceria seperti biasa, bercerita berbagai macam hal, pekerjaan, kehidupan, atau mengingat kembali masa-masa kecil yang sedikit terlupa hingga masa-masa ketika SMA. Kemudian ku putuskan rasanya harus memesan camilan yang serupa dengannya. Oh ya, kami pun foto berdua, Ia bilang: biasanya kalau orang yang dekat sudah bertahun-tahun bahkan dari kecil, sering kali engga punya foto bersama. Benar juga kurasa.</p><p>Malam semakin larut dan lapar datang, tempat sate akhirnya jadi pilihan terakhir untuk di tuju. Karena kesalahanku memesan terlalu banyak, perut bergumam kekenyangan. Aku merebah badan di kursi dan sesekali menendang kakinya saat ia masih khidmat menikmati santapan. Namun, ku putuskan akhirnya tak mau mengganggunya lagi. Mata ku tertuju ke meja lain di tempat makan sate itu. Satu meja berisikan 1 set keluarga yang duduk cukup rapih dalam meja panjang, seperti makan malam keluarga Don Corleone.</p><p>Di ujung meja, Kepala Rumah Tangga di perlihatkan oleh istrinya menyoal pakaian yang ia lihat di TikTok, suaminya itu hanya menggelengkan kepala sesaat setelah melihat apa yang di tunjukan kepadanya. Usaha untuk menunjukan hal serupa kesekian kalinya gagal berujung mendapat jawaban yang sama. Mungkin istrinya ingin menanyai pendapat bagaimana kalau ia mengenakan pakaian tersebut, apakah cocok atau tidak. Namun, jawaban suaminya mungkin saja itu bukan tak cocok,bisa jadi karena perkara lain.</p><p>Di sebelah kanan Istrinya ada anak kecil yang seperti ingin tahu berbagai macam hal, ia duduk bersama gadis remaja, mungkin saja kakaknya, Mereka begitu akrab, sesekali si adik menunjuk makanan tertentu dan si kakak mengambilkan untuknya. Terkadang pula, si kakak yang harus memberikan makanan yang tak di tunjuk, meskipun setelah di coba tak suka, si kakak lah yang kemudian harus menghabiskan apa yang adiknya coba.</p><p>Di sebelah mereka duduk seorang wanita berkacamata, di gerai rambutnya dan sangat menikmati makanan yang tengah ia santap, sesekali ia berbicara kepada Pria di depannya, memakai kacamata pula. Mereka terlihat seperti suami-istri yang kadang suka canggung jika santap malam bersama keluarga.</p><p>Di sebelah si pria ada seorang gadis remaja tengah heboh meramaikan suanana, mengoceh sana sini, bercerita dengan topik yang tertuju ke masing-masing orang di meja tersebut, terkadang apa yang di bicarakannya terdengar sunyi, tapi kebanyakan tawa yang meledak dari orang-orang yang tengah menikmati kudapan.</p><p>Di sebelahnya duduk laki-laki yang terlihat tak banyak omong, hanya memperhatikan keadaan sekitar, melihat satu per satu anggota keluarganya dengan seksama, ia mengunyah sangat lama, mungkin saja ia tengah menghitung berapa kali harus melakukannya dengan benar. entahlah.</p><p>Pramusaji datang, di sambut dengan beberapa tangan, Kecuali pria yang menjadi kepala rumah tangga, berperawakan paling tua, dan masih memegang ponselnya, melihat dengan sungguh-sungguh ke depan layar, ia tengah khusyuk memainkan slot. Sekali-dua kali ia memenangkan, pundi-pundi uang langsung masuk kedalam dompet digitalnya bersamaan ia mengepalkan lengan. Kemudian ia memainkannya lagi, namun berulang kali kalah bersamaan ia menggelengkan kepala saat istrinya menunjukan sesuatu kepadanya. Rupanya ia tak memperduliakan apa yang di perlihatkan. Ia fokus untuk bermain lagi, dan kalah lagi. Sebelum main, Ia memesan lagi nasi, sate, sop, juga makanan tambahan yang lain, bukan untuknya ternyata, tapi untuk semua anggota keluarga yang tengah duduk di sana.</p>]]></content:encoded>
            <author>pandu-firdaus@newsletter.paragraph.com (Pandu Firdaus)</author>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Angkot]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@pandu-firdaus/angkot</link>
            <guid>GalqBKGWuslyw4nEohmt</guid>
            <pubDate>Fri, 27 May 2022 03:35:38 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Naik angkot untuk pertamakalinya lagi, entah kapan terakhir. Ponsel ku jadi engga berguna untuk mengusir bosan. Mendengar dan melihat orang-orang di dalamnya tenyata lebih menyenangkan. Supir mengemudi dengan senyum sumringah pagi-pagi menjalankan mobilnya, berhenti sesuai permintaan penumpang, dan terkadang berhenti untuk menawarkan ke orang di jalan, ia hanya bergumam mempertanyakan saat ada orang menolak naik padahal angkotnya masih cukup kosong, masih bisa di isi sekitaran 5 orang, ia kem...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Naik angkot untuk pertamakalinya lagi, entah kapan terakhir. Ponsel ku jadi engga berguna untuk mengusir bosan. Mendengar dan melihat orang-orang di dalamnya tenyata lebih menyenangkan.</p><p>Supir mengemudi dengan senyum sumringah pagi-pagi menjalankan mobilnya, berhenti sesuai permintaan penumpang, dan terkadang berhenti untuk menawarkan ke orang di jalan, ia hanya bergumam mempertanyakan saat ada orang menolak naik padahal angkotnya masih cukup kosong, masih bisa di isi sekitaran 5 orang, ia kemudian memindahkan gigi melanjutkan kembali menyetir tanpa terlihat sedih sama sekali, lalu semua orang di dalamnya berbicara tanpa komando kalau orang yang tadi hanya ingin naik angkot kosong. Rejeki sudah diatur rupanya, supir mendapatkan penumpang lebih banyak di depan turun naik silih berganti.</p><p>Lalu kemudian di belakang kemudi ada penjaja jamu yang aku rasa di awal naik ia baru akan berangkat namun dugaan ku salah, ia sebenarnya dalamnya perjalanan pulang, terlihat saat ia membuka kantung plastik bertumpuk uang di ember hijau kecil yang di jaganya baik-baik, menarik beberapa lembar di sana untuk di berikan kepada pengemis di depot pengisian bensin saat mobil berhenti. Kebaikan dan rejeki ternyata menular, beberapa orang di dalam angkot menarik uang dalam dompetnya untuk memberi juga.</p><p>Di sisi kiri ku duduk seorang perempuan remaja sudah berpakaian rapih dan wangi, ketika naik, ia langsung membuka ponselnya, membuka chat untuk mengabari orang tuanya kalau ia sudah jalan, kemudian ia mengalihkan chat-nya dan memberi tahu hal serupa kepada seseorang yang tertulis namanya disana hanya 3 emoji love, lalu ia memasukan kembali ponselnya kedalam tas dengan senyum sumringah, ada potongan hatinya yang lain ternyata sedang menunggu entah dimana.</p><p>Di sisi kananku ada wanita paruh baya tengah mengobrol dengan seorang wanita muda di depanya, berbagai topik ringan seperti keluarga, moment lebaran, atau anak cucu. Aku di sadarkan setelahnya, kalau ia hanya membahas hal-hal lampau yang telah ia lalui, kebahagiaan terkunci dalam memorinya dan hanya itulah yang ia hanya ingin simpan dan bagikan.</p><p>Di depanku, seorang anak tengah di pangku oleh Neneknya, sugguh sangat menggemaskan melihat pakaian dan parasnya yang gembil, ia mengenakan topi berbordilkan muka kelinci beserta kuping panjangnya yang menggantung, sayup-sayup angin terhembus membawa ia untuk menutup mata karena mengantuk, ibunya yang mengenakan hipseat duduk bersebelahan, sesekali menyeka keringat yang jatuh di kening anaknya. Ibunya sesaat sebelum sampai tujuan bertanya kepada wanita Paruh baya tentang berapa ongkos angkot sekarang yang harus di bayarkan, jawabannya sama saja, tak pernah berubah. Ketika turun, ia membayar 2x harga biasa, dan rasanya itu cukup pantas saat semua kita tahu kalau harga bensin sekarang sudah naik. Kita tidak di tuntut untuk mengerti, namun sekedar memahami untuk memberi, karena jauh entah di sana sudah ada yang mengatur rejeki.</p>]]></content:encoded>
            <author>pandu-firdaus@newsletter.paragraph.com (Pandu Firdaus)</author>
        </item>
    </channel>
</rss>