<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
    <channel>
        <title>Shilen: Thriller</title>
        <link>https://paragraph.com/@shilen</link>
        <description>Penulis psychological thriller yang mendalami unreliable narrator dan manipulasi mental dalam setiap cerita yang membuat pembaca meragukan kenyataan mereka sendiri.</description>
        <lastBuildDate>Sat, 13 Jun 2026 06:34:07 GMT</lastBuildDate>
        <docs>https://validator.w3.org/feed/docs/rss2.html</docs>
        <generator>https://github.com/jpmonette/feed</generator>
        <language>en</language>
        <image>
            <title>Shilen: Thriller</title>
            <url>https://storage.googleapis.com/papyrus_images/7a5db695b65df9c54dc18cf7c7620752d9b85b08955ee1fe7c76400dc2c5adc7.jpg</url>
            <link>https://paragraph.com/@shilen</link>
        </image>
        <copyright>All rights reserved</copyright>
        <item>
            <title><![CDATA[AKU YANG BUKAN AKU 3]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/aku-yang-bukan-aku-3</link>
            <guid>aOZ2PmdaKR5vQSZbN7YQ</guid>
            <pubDate>Fri, 02 Jan 2026 15:48:24 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Keesokan harinya, aku menemui Dr. Ahmad - psikiaterku selama sepuluh tahun terakhir. "Dok, aku rasa ada...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Keesokan harinya, aku menemui Dr. Ahmad - psikiaterku selama sepuluh tahun terakhir.</p><br><p>"Dok, aku rasa ada yang salah dengan memoriku," kataku sambil menatap jendela.</p><br><p>Dr. Ahmad tersenyum lembut. "Setiap orang punya memory gaps, Rat. Itu normal."</p><br><p>"Tapi ini berbeda. Seseorang menelponku, bilang aku kecelakaan tahun lalu, padahal itu tiga belas tahun lalu."</p><br><p>"Lucy," Dr. Ahmad mencoret-coret notes. "Itu disebut false memory implantation. Terkadang trauma menciptakan memory palsu sebagai mekanisme defense."</p><br><p>"Tapi terlalu detail, Dok. Nama orang, tanggal, lokasi..."</p><br><p>Dr. Ahmad meletakkan pensilnya. "Rat, percayalah padaku. Aku sudah menanganimu selama sepuluh tahun. Selama ini tidak ada masalah."</p><br><p>Tapi di mata Dr. Ahmad, aku melihat sesuatu yang gelap dan familiar - seperti kekhawatiran yang tersembunyi di balik kepercayaan diri.</p><br><p>"Kapan terakhir kali kita tidak bertemu, Dok?" tanyaku tiba-tiba.</p><br><p>"Seminggu yang lalu," Dr. Ahmad menjawab cepat.</p><br><p>"Pokoknya Kamis, 10 Maret pukul 16:00," kata Dr. Ahmad terlalu cepat.</p><br><p>Aku mengerutkan kening. Itu... response yang terlalu scripted.</p>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/14a2b3a18bbbd01a705085f39a867a94295b79bd4aea07e9aadfec763d485944.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[AKU YANG BUKAN AKU 2]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/aku-yang-bukan-aku-2</link>
            <guid>1BfOI1NvdQJopkY9HX9d</guid>
            <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 08:38:57 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Setelah panggilan terputus secara tiba-tiba, aku bergegas ke kamar mandi. Aku membuka loker obat dan menemukan...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah panggilan terputus secara tiba-tiba, aku bergegas ke kamar mandi. Aku membuka loker obat dan menemukan resep obat tidur - dikeluarkan bulan lalu, dengan namaku sebagai pasien. Tapi aku tidak pernah punya masalah tidur yang parah.</p><br><p>"Laporan medis tidak bisa salah," bisikku pada cermin.</p><br><p>Aku membuka laptop, searching "RS Harapan Bekasi" - rumah sakit di mana Sarah katanya dirawat bareng. Website menunjukkan rumah sakit itu ditutup tahun 2010.</p><br><p>"Kecelakaan 2012... rumah sakit tutup 2012... tidak masuk akal."</p><br><p>Aku menelpon ibuku. "Ma, aku mau tanya sesuatu."</p><br><p>"Ada apa, Nak?" suara ibuku terdengar sangat khawatir.</p><br><p>"Aku... aku sering lupa belakangan ini. Apa aku pernah kecelakaan tahun 2012?"</p><br><p>Diam di ujung lain. Terlalu lama.</p><br><p>"Rat, kenapa tiba-tiba nanya begitu?"</p><br><p>"Cuma... seseorang menelponku, bilang kita kecelakaan bareng."</p><br><p>"Rat," suara ibuku bergetar. "Kamu tidak pernah kecelakaan mobil. Kamu... kamu pernah masuk rumah sakit jiwa tahun 2012. Dari percobaan bunuh diri."</p><br><p>Duniaku runtuh.</p>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/14a2b3a18bbbd01a705085f39a867a94295b79bd4aea07e9aadfec763d485944.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[AKU YANG BUKAN AKU]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/aku-yang-bukan-aku</link>
            <guid>Xz0F3ev8xSm9jHbhI6N8</guid>
            <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 07:04:44 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Jam dinding menunjukkan pukul dua belas tujuh belas. Aku menatap layar laptop dengan mata yang terasa berpasir. Tiga puluh empat tahun, psikolog..]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Jam dinding menunjukkan pukul dua belas tujuh belas. Aku menatap layar laptop dengan mata yang terasa berpasir. Tiga puluh empat tahun, psikolog klinis spesialis trauma, dan masih belum bisa tidur waktu normal.</p><br><p>"Ini efek samping dari bekerja dengan kasus-kasus berat," bisikku pada gelas kopi yang sudah dingin.</p><br><p>Telepon di mejaku berdering - private number.</p><br><p>"Ratna?" Suara perempuan terengah-engah, background hujan yang sama intensnya dengan yang sedang memukul jendela kamarku.</p><br><p>Aku mengerutkan kening. "Siapa ini?"</p><br><p>"Sarah... Sarah Wijaya. Kita SMA bareng, ingat?"</p><br><p>Nama itu men-trigger sesuatu di benakku - bukan memory yang jelas, tapi sensasi deja vu yang tidak nyaman. "Sarah... sudah lama sekali."</p><br><p>"Tiga belas tahun, Rat. Tiga belas tahun sejak kejadian itu."</p><br><p>Mataku membesar. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih keras. "Kejadian apa?"</p><br><p>"Prom night, tentu saja! Saat kamu mengalami amnesia parah?"</p><br><p>Aku merasakan dingin menjalari tulang punggungku. Aku ingat prom night - gaun biru, musik keras, tapi setelah itu... kegelapan. Hanya kegelapan.</p><br><p>"Tidak, mungkin," kataku dengan suara serak. "Itu tahun lalu."</p><br><p>"Tahun lalu?" Sarah tertawa. "Rat, kemarin saja kita masih di rumah sakit bareng. Kamu tidak ingat? Kecelakaan mobil itu?"</p><br><p>"Tahun 2012," kataku mantap. "Tiga belas tahun yang lalu."</p><br><p>Diam. Hanya suara hujan dan napas Sarah yang terengah.</p><br><p>"Rat, coba lihat kalender," kata Sarah akhirnya, suaranya gemetar.</p><br><p>Aku menatap kalender di dinding kamarku. 15 Maret 2025.</p><br><p>"Tahun 2025," kataku.</p><br><p>Sarah menjerit.</p><br>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/14a2b3a18bbbd01a705085f39a867a94295b79bd4aea07e9aadfec763d485944.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rambut 3]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/rambut-3</link>
            <guid>AQVCkiTTkj4AxbkZjTVW</guid>
            <pubDate>Fri, 26 Dec 2025 15:01:11 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Aku masih tidak bisa membayangkan yang terjadi 7 hari lalu, rasanya tidak masuk akal dikepalaku. Aku masih merasakan kesedihan yang tiada habisnya ketika melihat...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih tidak bisa membayangkan yang terjadi 7 hari lalu, rasanya tidak masuk akal dikepalaku. Aku masih merasakan kesedihan yang tiada habisnya ketika melihat kakakku tergulai lemah dipangkuan ayah. Tak bernyawa.&nbsp;</p><p>&nbsp;Kakak adalah seorang perempuan yang sangat cantik jelita. Bibir yang indah, mata yang lentik. dan tentu rambut yang sangat aku idam-idamkan ada di diri kakak. Aku masih tidak rela dengan kepergian kakak secara mendadak seperti ini, bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi waktu itu.</p><p>&nbsp;Kakak adalah seorang Dokter Bedah di salah satu Rumah Sakit ternama di kota tetangga. Dia sangat lihat untuk menyayat bagian tubuh seseorang tanpa ada kesalahan. Aku pernah melihat kakak praktek dengan hewan percobaan, bagaimana cara dia mengeluarkan salah satu organ dalam dari hewan itu tanpa melukai organ lainnya. Aku sangat kagum dengan kakak, dalam hal piawai menggunakan pisau bedah itu. Suatu waktu kakak pernah memberiku hadiah sebuah pisau bedah yang pernah dia gunakan ketika masih dalam uji kelulusan sebagai dokter bedah.</p><p>"Naura tutup matamu," kakak berlagak aneh yang saat itu tiba-tiba senang entah kenapa.<br>"ada apa si Kak?," pikirku bertanya-tanya apa yang ingin kakak lakukan dengan aku untuk memejam mata.<br>"Sudah tutup matamu dulu, nanti kamu akan tahu," kakak mulai mendekat di ranjang tempat tidurku dan mengambil kain dasi pramukaku.<br>"ih, apasih, jangan aneh-aneh ya kak, aku takut dengan kecoa tahu," dengan nada kesal dan pasrah ketika kakak menutup mataku.</p><p>&nbsp;Kakak meletakkan sesuatu di pangkuanku, aku sedikit terkejut. Aku meraba-raba, sebuah benda, berbentuk kotak persegi panjang.<br>"Coba tebak Naura, apa ini?,"<br>" ya mana aku aku tahu lah kak, kakak kira aku seorang peramal yang bisa tahu segala hal dengan keadaan aku sekarang dalam posisi mataku tertutup?,"aku mulai kesal tapi aku juga penasaran dengan kotak ini. "Kalau aku raba, ini hanya sebuah kotak persegi panjang", lanjutku.</p><p>Kakak tertawa ketika aku menjawab seperti itu. "haha, iya juga yaa, kok kakak lupa". sambil membuka tutup mata yang dari tadi terasa kencang sekali ketika kakak mengikat.&nbsp;</p><p>&nbsp;Lega rasa ketika tutup mata terlepas. Aku melihat dipangkuan. Benar. Sebuah kotak persegi panjang tapi apa isinya, sambil melihat ke arah kakak dengan rasa curiga, takut kakak hanya menjahiliku dengan kecoa mainannya yang sering setiap saat dia lakukan, tapi ketika melihat wajah kakak, seolah-olah dia memberi tahu, <em>"bukalah kotak itu biar kamu tahu apa yang ada di dalamnya".</em></p><p>&nbsp;Pisau? sejak itu aku tahu, kakak sangat menyayangiku. Hari itu adalah ulang tahunku yang di umur 18 tahun . Aku sangat senang. Kakak tidak tahu apapun tentang aku tapi dia tidak pernah lupa dengan hari ulang tahunku.</p><p>"Yah, coba kamu lihat ini di CCTV, Naura membunuh Nauri, dengan pisau pemberian kakaknya. Saudari kandungnya Yah", Ibu meluapkan tangisannya setelah 3 hari kepergiannya.</p><p>&nbsp;Apa? Aku? Membunuh Kakak? tidak, tidak, tidak mungkin.</p><p>&nbsp;Saat itu aku berada duduk di tangga sedang merenungi kepergian kakak yang begitu cepat. Pintu kamar Ibu dan ayah terbuka setengah. Aku mendengar semua perbincangan itu. Apakah memang benar aku? tidak mungkin. Kepalaku mulai terasa sakit. Bergegas aku kembali ke kamar, membuka laci kecil di samping tempat tidur, mengambil botol berwarna putih bertuliskan DELUX, sesegera aku memasukkan kedalam mulut sejumlah 3 butir tanpa air. Aku telan kuat-kuat agar tidak keluar kembali. Perlahan aku menuju ranjang tempat tidur dan dan berbaring sejenak sampai benar-benar santai, tenang, lemas. Mata mulai buram, perlahan tak sadarkan diri.</p>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/52de2a3d280ae9b27aa8ed8b4da25dbd160123e345f64d224bfa568da7186442.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rambut]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/rambut</link>
            <guid>Iqn6gWHQsAN28ku1P8cc</guid>
            <pubDate>Thu, 25 Dec 2025 21:32:33 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA[Bau darah membangunkanku. Aku mencium bau darah yang begitu menyengat. Apakah Ayah sedang memotong seekor ayam?. "Aduh, kepalaku sakit sekali," sambil memegang...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Bau darah membangunkanku. Aku mencium bau darah yang begitu menyengat. Apakah Ayah sedang memotong seekor ayam?. "Aduh, kepalaku sakit sekali," sambil memegang kepala yang terasa ingin meledak saat itu juga. Kenapa aku tertidur?, bukankah tadi sore aku baru saja pulang dari sekolah dan menyapa kakak?.</p><p>&nbsp;Aku mengambil handphone yang terletak di sebelah kanan tempat tidur dan melihat jam, "Pu..pukul..", aku lupa bahwasanya aku ini minus dalam penglihatan. Di mana kacamataku?, aku tidak pernah lupa dengan benda itu, aku selalu meletakkannya bersama dengan handphone di atas meja samping tempat tidur. Aku mencari di bawah bantal, di dalam laci kecil, di bawah kolong tempat tidur. Tidak ada. Aku ingat-ingat kembali di mana aku meletakkan benda itu. Kepalaku masih terasa berat. Apa yang sebenarnya terjadi?.</p><p>&nbsp;"Naura?", suara itu seperti tidak asing di telingaku. Suaranya lembut, halus, dan nada suara terdengar lebih rendah tapi nada ini begitu berbeda. Itu suara ibu. Aku belum sempat menjawab panggilan itu, tiba-tiba Ibu masuk ke kamar kami dengan bersedih. Terlihat dari matanya memerah dan bengkak, masih ada bekas air mata di pipi.</p><p>&nbsp;Aku satu ruangan dengan kakak. Kami berbagi kamar bersama. Rumah ini cukup besar. Dulu ayah membeli rumah ini seharga satu miliar. Aku tahu itu, karena sekeluarga di ajak ayah untuk melihat rumah sampai ketemu rumah yang cocok untuk kami tinggal. Lebih tepatnya cocok bagi kakak.</p><p>Rumah yang aku tempati sekarang dua tingkat, bagian bawah ada tempat parkir mobil yang menghadap ke timur, tempat matahari menunjukkan sinar ketika terbit. Ada ruang tamu tepat ketika membuka pintu depan. Kemudian ada kamar tidur yang sekarang telah di tempati ayah dan ibu di sebelah kanan ruang tamu. Ada kamar mandi sekaligus toilet tepat di belakang ruang tamu, untuk dapur sendiri berada tepat di sebelah kanan kamar ibu dan ayah. Entah bagaimana arsitektur membuat desain seperti itu. Ruang keluarga berada di belakang kamar ayah dan ibu dan dapur itu sendiri, sekaligus tangga untuk menuju lantai kedua.</p><p>Di lantai dua. Di sanalah Aku dan Kakak tidur bersama, walaupun di atas ada 3 kamar, aku tetap tidur bersama kakak, walaupun dengan tempat tidur terpisah. Ada kamar mandi atas juga, jadi aku tidak harus turun ke bawah hanya untuk mandi ketika ingin berangkat sekolah. Tapi sayang di lantai dua tidak ada toilet, padahal itu adalah rutinitas bagi perutku ini untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh untuk sesegera mungkin untuk di buang. Alhasil ketika pagi Aku selalu ke bawah ketika bangun tidur.</p><p>"Kenapa bu?", dengan nada bingung aku bertanya kepada ibu, apa yang sebenarnya terjadi sampai melihat muka ibu seperti sedikit basah dan lengket. "Ka..," suara ibu tersendat dan patah-patah, "Kakakmu Naura", napasnya tersendat lagi dan Ibu hanya mengarahkan tangan ke arah kamar mandi sambil melontarkan tangisan yang meledak-ledak karena dia menahan dari tadi.</p><p>Aku segara menuju ke kamar mandi. Kamar mandi di lantai dua tempatnya terbuka, tidak ada penghalang atap genteng atau tirai, hanya ada dinding yang tingginya kurang lebih 150 cm, jadi kamar mandi di lantai dua ini tempat biasa aku, kakak, dan ibu mencuci baju sekaligus menjemur pakaian.</p><p>Aku kaget, tubuhku seketika membeku di tempat. Tidak percaya.</p><p>Kakak yang aku sayangi, tubuhnya bersimbah darah. Darah mengalir dari tusukan, sayatan di leher dalam pangkuan Ayah dengan jeritan seperti Ibu.</p><p>Apa yang terjadi? Siapa yang membunuh Kakak?</p><br>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/cf48c17dc0e2e2f28ffecebb25559ed437b7ddb0aa13e435902d5707f5999b90.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rambut 2]]></title>
            <link>https://paragraph.com/@shilen/rambut-2</link>
            <guid>AZ2M6qxJBD5t03mXZ874</guid>
            <pubDate>Thu, 25 Dec 2025 16:00:00 GMT</pubDate>
            <description><![CDATA["Ibu.." suaraku menggema di lantai atas, tapi tidak ada jawaban dari ibu. Aku tahu. Aku sudah biasa dengan itu. Setiap hari bahkan...]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>"Ibu.." suaraku menggema di lantai atas, tapi tidak ada jawaban dari ibu. Aku tahu. Aku sudah biasa dengan itu. Setiap hari bahkan, mereka semua tidak ada ketika pagi telah datang. Ibuku adalah seorang hukum, mungkin lebih tepat dikatakan adalah seorang pengacara. Mungkin, aku tidak terlalu mengurusi pekerjaan mereka. Ibu mungkin sekarang sedang menangani berbagai kasus hukum, baik itu perdata maupun perdana. Biasanya klien Ibu seperti orang kaya raya, mungkin lebih tepatnya anak orang kaya yang selalu tersandung masalah dan ingin cepat kelar masalahnya. Aku tidak tahu Ibu adalah pengacara yang baik atau bukan, dari sudut pandang orang yang benar atau salah. Aku selalu mendoakan mereka selalu sehat dan selamat dalam pekerjaan mereka.</p><p>&nbsp;Kalau ayah jangan ditanya lagi, dia mungkin belum pulang dari kemarin malam. Aku ketika sudah di rumah, langsung menuju lantai atas, jarang sekali kebawah kecuali boker dan makan.</p><p>&nbsp;Ayah bekerja di instansi pemerintah sebagai seorang polisi, lebih tepatnya sebagai Kapolres di Kota ini, jadi aku mewajarkan semua tindakannya, toh dia membantu wilayahnya agar aman dan tertib dari tindakan yang tidak diinginkan oleh warga-warga di Kota ini.</p><p>&nbsp;Aku turun dari tempat tidur dan menuju ke meja cermin. Wajahku layu sekali hari ini, padahal sekarang hari senin, hari yang paling aku benci untuk masuk Kampus. Tentu. Pak Son, dia guru yang tidak aku suka, tapi aku harus mendapatkan ilmu darinya karena jurusan Desain Mode adalah kesukaanku.</p><p>&nbsp;Aku keluar dari kamar tidur ke kamar mandi. Aku rasa hari ini bukan waktunya untuk buang air besar, jadi aku mandi di lantai atas aja. Hawa hari sangat sejuk dengan pemandangan pagi hari yang cerah. Masuk kampus pukul 09.00 WIB, sekarang masih pukul 08.00 WIB, masih ada waktu satu jam buatku mandi dan makan, paling di bawah ibu tidak masak, jadi aku berencana untuk makan yang aku suka.</p><p>&nbsp;Handuk aku letakkan di gantungan, kemudian aku menyalakan pancuran. Segar. Baru ini aku merasakan kepala dari semburan air di pancuran terasa dingin, segar. Setiap semburan membasi setiap sela-sela tubuh sambil aku menyela dengan kedua tanganku. Aku tuangkan sampo di telapak tangan kiri, bentuknya seperti jeli lidah buaya. Aku remas-remas kepala, aku pijat, aku balut semua helai rambutku dengan perlahan dan pijatan yang ringan agar semua bagian kepala terbalut.</p><p>&nbsp;Aku teringat rambut kakak, rambut yang halus, lembut, dan licin. Aku sangat mengagumi rambut kakak. Ketika kakak bergerak ataupun sedang menyisir rambutnya begitu anggun. Rambut kakak tidak pernah tergantikan. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit, kepalaku mulai terngiang hal yang pernah terjadi, "Apa yang kamu lakukan Naura?" suara siapa itu?. Aku bergegas membersihkan busa-busa di sekujur tubuhku, kembali ke kamar dan cepat-cepat memakai pakaian untuk berangkat ke kampus.</p><p>&nbsp;Ibu tidak melupakan aku, ternyata dia telah menyiapkan sarapan setelah aku melihat dalam kulkas. Aku ambil Burger yang terasa sudah dingin dan aku letakkan ke dalam microwave. "Ting.." suara alarm telah berbunyi menandakan sudah hangat burger yang aku panaskan tadi. Sesegera aku letakkan ke dalam kotak makan.</p><p>&nbsp;Tuh, Ibu lupa lagi untuk menutup pintu rumah, untung tidak ada yang masuk, bahaya banget. Aku keluarkan sepeda motor dari gerbang rumah, menutup pagar, tangan kanan mulai memutar pedal gas untuk menuju kampus.</p><br>]]></content:encoded>
            <author>shilen@newsletter.paragraph.com (Shilen: Thriller)</author>
            <enclosure url="https://storage.googleapis.com/papyrus_images/6f22f67910efe9989d327f7da86c19d1fc8355133c4d8fde03c08d6626561fb5.jpg" length="0" type="image/jpg"/>
        </item>
    </channel>
</rss>