Menyusun silsilah bukan sekadar mendata nama, melainkan memahami "pesan" yang ditinggalkan leluhur melalui simbol. Salah satu temuan fisik yang paling berharga dalam riset keluarga kita adalah Motif Gonci Sikoi yang terpatri pada pagar dan gerbang Soraja Pattojo.
Akar Sejarah: Mengapa Luwu?
Banyak yang bertanya mengapa motif Kedatuan Luwu hadir di tengah keluarga kita. Jawabannya terletak pada garis darah. Ibunda dari Datu Tola (Datu Sumangerukka Patola Wajo) adalah We Tenriesa, putri dari La Babba Opu To Palellung Palempang To Rongkong. Beliau merupakan kerabat dekat dari Andi Jemma (Datu Luwu). Pertalian darah inilah yang menjadi alasan kuat mengapa identitas Luwu sangat dijaga dalam tradisi keluarga kita.
Kesaksian Sejarah dari Anak Datu Pattojo
Berdasarkan komunikasi mendalam dengan putra/putri dari Datu Pattojo (keturunan Datu Sumangerukka Patola Wajo - Arung Matowa Wajo ke-46), terungkap bahwa motif Gonci Sikoi ini memiliki kedalaman nilai yang luar biasa.
Sebagai seorang akademisi teknik, beliau merancang sendiri penerapan motif ini dengan sangat detail. Gonci Sikoi adalah motif khas Kedatuan Luwu yang menonjolkan keindahan bentuk Sulur. Penggunaannya pada pagar Soraja bukan tanpa alasan—ini adalah sebuah "monumen pengingat" bahwa leluhur Kedatuan Pattojo memiliki akar yang kuat dari Luwu.

Filosofi dan Komposisi Motif Gerbang
Desain gerbang ini merupakan perpaduan harmonis antara nilai tradisi yang sakral dan sentuhan estetika modern:
-
Pusat Filosofi (Warna Hitam): Di bagian tengah, motif Gonci Sikoi tampil sebagai inti. Motif ini merupakan gabungan dari dua unsur utama: Motif Orane (Laki-laki) dan Motif Makkunrai (Perempuan). Penyatuan ini melambangkan keseimbangan, keutuhan keluarga, dan keberlanjutan garis keturunan kita.
-
Sentuhan Estetika (Warna Kuning): Sementara itu, motif Sulur yang berwarna kuning merupakan ornamen modern yang dipilih karena keindahan bentuknya. Penggunaan warna kuning pada sulur ini tetap merujuk pada warna kebesaran kerajaan, sehingga meskipun bersifat modern, ia tetap menyatu dalam napas kemuliaan tradisi.
Otoritas Warna dan Izin Kedatuan
Ada dua poin krusial yang harus kita abadikan dalam arsip digital ini:
-
Warna Kuning Ornamen: Warna kuning yang digunakan pada ornamen pagar merupakan warna kebangsawanan/kerajaan, yang bersanding dengan warna hijau khas Datu.
-
Izin Resmi Datu Luwu: Penggunaan motif ini telah mendapatkan izin langsung dari Datu Luwu (Andi Maradang Makkulawu Opu To Bau). Hal ini menegaskan bahwa silsilah kita bukan hanya sekadar cerita lisan, tapi diakui secara adat dalam tatanan Kedatuan Luwu dan Wajo.
Pertalian Darah Lintas Kerajaan
Catatan ini juga mempertegas kedekatan kekerabatan antara tokoh-tokoh besar seperti Opu Cenning dan Datu Batari, serta garis keturunan dari Datu Tola hingga raja-raja Wajo terakhir seperti Datu Mangkona dan Datu Ninnong. Motif Gonci Sikoi ini menjadi "simpul" (Sikoi) yang mengikat memori kolektif kita tentang kebesaran masa lalu.
Mengapa Dipermanenkan Sekarang?
Saya memilih untuk memasukkan motif ini ke dalam Arsip Digital Permanen hari ini dengan tujuan:
-
Perlindungan Sejarah: Agar anak cucu kita tahu bahwa gerbang yang mereka lihat memiliki izin adat dan sejarah besar di baliknya.
-
Identitas yang Tak Terhapus: Dengan teknologi digital, bukti visual motif ini akan tetap utuh dan tidak akan hilang meski fisik pagarnya suatu saat termakan usia.
-
Amanah Leluhur: Menjaga pesan bahwa identitas Luwu dan Pattojo menyatu dalam silsilah darah kita.
Abadi dalam digital, hidup dalam ingatan. Semoga dengan dipermanenkannya motif Gonci Sikoi ini, generasi mendatang selalu ingat dari mana mereka berasal dan nilai-nilai apa yang harus mereka jaga bersama.
Terima kasih kepada keluarga Datu Pattojo atas izin dan data yang diberikan. Dengan ini, Gonci Sikoi resmi menjadi bagian dari warisan digital yang akan terus terjaga bagi anak cucu kita.
Kolaborasi Akademisi dan Intelektual Keluarga
Proses perancangan dan pembangunan pintu gerbang serta pagar ini bukanlah kerja yang sederhana. Di baliknya, terdapat kolaborasi antara pakar dan dedikasi intelektual keluarga. Proses teknisnya dibantu langsung oleh Dr. Andi Abidah Danial, dosen Arsitektur FT UNM lulusan Jerman, yang memastikan standar estetika dan struktur bangunan tetap terjaga.
Selain itu, sosok di balik ide dan pengawasan proyek ini adalah Dra. A. Harliaty Hasan, M.Si. Beliau adalah seorang praktisi pendidikan dan birokrat yang menempuh pendidikan S1 di UNM dan S2 di Unhas. Menariknya, gelar Magister beliau raih melalui beasiswa Kemendikbud di sela-sela kesibukannya mengabdi sebagai PNS di Pemerintah Provinsi. Semangat belajar dan ketelitian beliau inilah yang memastikan setiap detail motif—termasuk perpaduan Gonci Sikoi dan Sulur—terwujud dengan sempurna di Soraja kita.
Dokumentasi visual menyusul dalam proses digitalisasi.