Dalam kebudayaan Bugis, kehormatan dan harga diri—yang kita kenal sebagai siri'—adalah pilar utama kehidupan. Namun, siri' bukan sekadar tentang mempertahankan martabat individu atau kelompok secara kaku; ia juga mengajarkan nilai kesetaraan, saling menghargai, dan persaudaraan sejati (siamasei).
Ketika kita menengok kembali lembaran sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-16, tepatnya di tahun 1582, nilai-nilai persaudaraan ini diuji oleh dinamika geopolitik kawasan yang kian memanas.
Konteks Abad ke-16: Dinamika Kawasan Sulawesi Selatan
Pada era 1582, peta politik Sulawesi Selatan diwarnai oleh ekspansi dan pengaruh kekuatan regional yang makin dominan. Kerajaan-kerajaan Bugis seperti Soppeng, Bone, dan Wajo menghadapi ancaman tekanan eksternal yang dapat mengikis kedaulatan serta kemerdekaan wilayah mereka masing-masing.
Di tengah situasi penuh ketegangan tersebut, timbul kesadaran bersama bahwa perpecahan atau kepatuhan pada dominasi tunggal hanya akan merugikan tanah leluhur.
Perjanjian Timurung: Lahirnya Tellumpoccoe
Untuk merespons tantangan zaman itu, tiga pemimpin kerajaan Bugis berkumpul di sebuah tempat bernama Timurung (wilayah Bone utara). Pertemuan bersejarah ini melahirkan Perjanjian Timurung yang mengikat tiga kerajaan—Soppeng, Bone, dan Wajo—dalam ikatan persaudaraan yang dikenal sebagai Tellumpoccoe (Tiga Puncak).
Ibarat tiga puncak gunung yang berdiri sejajar memeluk langit, Perjanjian Timurung dirumuskan bukan sebagai bentuk penguasaan satu kerajaan atas kerajaan lain, melainkan sebuah pakta pertahanan bersama dan persaudaraan moral.
Prinsip utamanya sangat mendasar namun mendalam:
-
Malilu sipakainge (saling mengingatkan jika ada yang khilaf)
-
Rebba sipatokkong (saling menegakkan jika ada yang rebah)
-
Mali Siparappe (saling menyelamatkan jika ada yang hanyut)
Model Diplomasi Kesetaraan yang Abadi
Mengapa persekutuan Tellumpoccoe diakui sebagai warisan diplomasi yang istimewa?
Dalam banyak perjanjian politik zaman klasik, aliansi sering kali berwujud taktis-transaksional atau menghasilkan hubungan antara kerajaan atasan (vazal) dan bawahan. Namun, Tellumpoccoe berdiri di atas kesetaraan penuh. Kedudukan Bone, Wajo, dan Soppeng adalah saudara kandung: **Bone sebagai kakak tertua (kaka'), Wajo sebagai anak tengah (mali'), dan Soppeng sebagai adik bungsu (anri')**.
Struktur kekeluargaan metapora ini menjamin bahwa kedaulatan internal setiap kerajaan tetap dihormati sepenuhnya, sementara urusan pertahanan bersama ditanggung secara kolektif.
Penutup: Merawat Nilai Leluhur
Aliansi Tellumpoccoe tahun 1582 adalah bukti betapa bijaknya para leluhur Bugis dalam merajut perdamaian dan pertahanan tanpa mengorbankan kedaulatan serta harga diri (siri'). Nilai-nilai diplomasi berbasis kesetaraan dan sipakatau (saling menghargai sebagai sesama manusia) tetap relevan hingga hari ini.
Bagi Anda yang ingin mendalami lebih jauh peristiwa-peristiwa penting dan warisan sejarah Soppeng lainnya, Anda dapat membaca peta jalan artikel lengkap kami di Panduan Membaca Sejarah Soppeng.