I am Elysianist - Elysian Future Society Network
I am Elysianist - Elysian Future Society Network

Subscribe to Adrianza Alsyazani

Subscribe to Adrianza Alsyazani
Share Dialog
Share Dialog


<100 subscribers
<100 subscribers
Banjir di sumatra seharusnya bisa menjadi titik kepekaan masyarakat tentang kepada siapa tanggung jawab terkait kebijakan di delegasikan, termasuk mengenai alih fungsi lahan yang mendesforestasi lingkungan hanya demi penyediaan lahan bagi para korporat berbondong-bondong mengakumulasi kekayaan materi dan berlomba memuncaki list orang terkaya di negeri ini melalui pertumbuhan kerajaan-kerajaan bisnis keluarga-nya.
Sunguh menyedihkan, bukan hanya tentang warga-warga yang selalu menerima dampak tragis kerusakan alam melalui tangan orang-orang korupt yang diberikan otoritas untuk mengambil keputusan dan menyerahkan tanah masyarakat yang lahir dan besar di suatu tempat, maupun masyarakat adat pada orang-orang tamak yang menjalankan kapitalisme koruptif demi melayani kebutuhan pasar global, dengan dalih pertumbuhan ekonomi yang tiada pernah terjadi karena mereka-mereka, para oligarki dan pejabat-pejabat yang berotoritas dan menerima keuntungan dari kolusi memutuskan untuk menjual rupiah ke asset lain dan menyimpannya di tempat-tempat yuridiksi yang menawarkan safe haven bagi terjaganya kekayaan dan penghindaran terhadap pajak.
Dan kita terus diam? Atau mereka yang berkuasa berpura-pura tuli untuk tidak mendengar?
Seberapa lama lagi kita harus bertahan dengan tingkah koruptif mereka ini? tidakkah dalam pikiran para penguasa, bahwa tidak selamanya peradaban manusia berhenti di sebuah era? Tidakkah mereka melihat bahwa kapitalisme sedang menghadapi ajal-nya? Tidakkah mereka menyadari bahwa peradaban kita tidak memiliki kompatibilitas menyeluruh dalam arti ‘mendeploy peradaban di atas sistem kapitalisme?’
Lagipula sejak kapan?
Bukankah sistem ini pada dasarnya adalah upaya untuk menghentikan kolonialisasi berlandaskan perampasan sumber daya alam yang terjadi selama era kolonialisme? Bukankah ada peranan politis di balik upaya menumbuhkan paham kapitalisme di tanah-tanah yang kaya akan sumber daya alam yang masyarakatnya bercorak budaya sosial?
Atau kemudian dengan menumbuhkan kapitalis-kapitalis kecil yang tamak, rakus dan gila mengejar akumulasi kekayaan, dan meminta mereka menyediakan sumber daya alam di negaranya untuk memenuhi kebutuhan dunia; pada dasarnya adalah kepanjangan tangan dari kolonialisme gaya baru yang bahkan bertahan hingga saat ini?
Kita butuh orang-orang yang memiliki kesadaran etika, dan penalaran moral untuk membangun peradaban, namun para kolonialis lokal memilih untuk menciptakan kontrak kerusakan dengan para pejabat korupt melalui relasi klientelistik dan patronase?
Kita butuh membangun standar pendidikan baru bagi generasi pembaharuan, kita bisa memulai untuk terlepas dari sekat pendidikan yang bahkan sudah rusak di negeri ini, kita perlu menumbuhkan kesadaran bahwa esensi utama dalam pendidikan tidak hadir dalam pendidikan formal belaka, namun pendidikan lebih daripada itu; ialah upaya untuk menemukan, mengekstraksi dan menginternalisasi nilai-nilai kedalam kesadaran, sehingga menjadi bagian yang terintegrasi dengan kesadaran itu sendiri; membentuk pola pikir dan prilaku dalam mengambil keputusan.
Kita bisa atau tetap memulai maupun menjalankan pendidikan formal, jika dan hanya jika individu telah berhasil menginternalisasi nilai-nilai dasar yang benar-benar berguna dalam menghadirkan nilai-nilai sederhana seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
Ketika dia tumbuh dewasa, penting untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih jauh; sensibilitas moral, penalaran moral, altruisme, dan nilai-nilai lainnya atau bagi para kapitalis di era post-kapitalisme nantinya adalah nilai-nilai sosial, dan filantrofik yang harus ditumbuhkan sebagai trajektori utama mengenai alasan mengapa mereka berbisnis, bukan lagi tentang mengakumulasikan kekayaan untuk dinikmati oleh ego semata.
Kita bisa menciptakan peradaban yang benar-benar baru; peradaban berbasis sociokolektivisme yang di modernisasi dengan keintegrasiannya dengan teknologi AI, Blockchain dan IoT, dan sistem-sistem pembentukan pemerintahan berbasis modular.
Kita akan membentuk jaringan masyarakat koloni yang terhubung pada node kesadaran tentang kebajikan moral dan kebajikan intelektual yang menjadi dasar dalam proses pembangunan dan perjalanan evolusi peradaban di tiap-tiap koloni teredesentralisasi, kita bisa membuat maupun menyempurnakan prototipe skala peradaban kardashev sebagai upaya untuk mentracking dan mencari sistem modular yang relevan dengan keadaaan awal masing-masing peradaban koloni masayrakat yang akan di bangun.
Dan yang pasti adalah, kita menghilangkan peranan pemerintahan pusat sebagai pembuat kebijakan yang berimplikasi kepada nasib masyarakat di tingkat paling dasar, kita akan menghilangkan kementrian dan dpr sebagai dua entitas yang membuat dan menentukan penolakan maupun persetujuan kebijakan.
Kita dapat menghadirkan sistem baru berbasis DAO Governance di tingkat unit terkecil masyarakat yaitu masyarakat adat maupun pedesaan yang masih memegang atau mendeploy kehidupannya melalui sistem yang sustain dengan alam.
Kita tidak lagi percaya dengan sistem berbasis pemerintahan pusat, maupun desentralisasi kuno versi pemerintahan daerah, kita harus menghilangkan hierarkis karena kita melihat otoritas yang diberikan pada segelintir orang cenderung bersifat destruktif karena itu bisa menjadi celah transaksi antara oligarki dan korporat dengan pejabat korupt yang menerima suap dan menyerahkan tanah milik masayrakatnya di beberapa tempat untuk di ambil para korporat dan mengubah fungsi lahan.
Kita harus mengambil alih negara, membubarkan sistem yang ada, dan mengubah pemerintahan pusat menjadi tempat dimana orang-orang etis, berintegritas, para ahli di berbagai bidang membangun lembaga tink-tank dan memproduksi Civilization SDK atau Governance SDK untuk kemudian dapat digunakan oleh masayrakat-masyarakat koloni DAO governance memilih sistem atau meminta masukan mengenai sistem yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu.
Dan untuk memastikan bahwa peradaban bertumbuh dengan arah, kita bisa membuat gerakan ‘para implementer’ gerakan ‘penyuluh peradaban masa’ gerakan dimana sekumpulan orang-orang dengan ilmu pengetahuan dan ketulusan yang dimilikinya; bersedia untuk di deploy di sistem masyarakat koloni-koloni DAO Governance untuk menumbuhkan kesadaran maupun memantik semangat pembangunan, para penyuluh peradaban masa akan mengajarkan masyarakat bagaimana cara mengkonversi hukum alam seperti perbedaan tekanan udara maupun energi potensial dari air terjun, maupun panas, dan gelombang lautan menjadi listrik, atau mengajarkan bagaimana cara memproduksi air bersih, membangun sitem pertanian modern, mengajarkan mereka membentuk guild bersama di dalam sistem sociokolektivisme ini, masyarakat akan tergabung dalam guild yang beragam dari mulai infrastrutkur air, listrik, perkebunan, pertanian, peternakan, pendidikan, guild kesehatan, dan guild lainnya termasuk fungsi pelayanan dan fungsi penyediaan untuk memastikan mereka bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar bersama dalam hidup, lalu mengirimkan penyuluh untuk mengumpulkan sejarah mereka, kepercayaan, tradisi, filosofi, yang kelak membantu membuat arah dan roadmap peradaban ini kedepannya, para implementer ini juga yang membantu menjalankan fungsi DAO Governance yang di tradisionalisasi namun tetap dengan prinsif keterbukaan dan transparansi.
Akan ada banyak peradaban alternatif tumbuh, termasuk contoh sederhana koloni masyarakat berbasis DAO governance yang telah maju, mereka bisa mengadopsi sistem ekonomi berbasis komunal, dan sebagaimana sistem perekonomian pada dasarnya; bagaimana menarik liquiditas dari luar ke dalam koloni, untuk kemudian dikonversi ke dalam pembangunan prasarana infrastruktur yang dinikmati bersama, mereka tidak lagi fokus merusak alam, mengekploitasi alam, mereka bisa berdagang karbon dengan merawat dan menghijaukan sisa ruang koloni yang dimilikinya, mereka bisa menerima modal awal dari pemerintahan pusat misal 1 triliun, yang kemudian menggunakan sistem UBI di bagi ke ribuan masyarakat koloni, 1 triliun itu digunakan untuk membeli asset ETH untuk stake ETH dan delegate sebagai sesama anggota koloni, atau stake di koin lain yang memungkinkan menerima APR lebih banyak dengan resiko fluktuasi yang lebih menantang tentunya, keuntungan yang di dapat pada akhirnya adalah bagian dari proses membawa liquiditas ke dalam koloni peradaban.
Di koloni itu mereka menggunakan hadiah hasil proof of stake ETH untuk bertransaksi baik dengan menswapnya ke stable coin, atau koin favorit mereka untuk berdagang dalam konteks antara masyarakat di dalam koloni, mereka juga bisa menyewakan tempat atau membuat ekstension kusus bagi para pengembang inovasi blockchain tinggal di koloni itu dan turut berkonstribusi dalam upaya menarik liquiditas ke dalam peradaban koloni, atau bisa membuat kontrak sosial kerjasama pengimplementasian penggunaan blockchain dalam dunia nyata dengan pengembang yang berhasil menerima pendanaan besar dan bersedia menyerahkan sebagaian alokasi asset untuk dibagi dalam bentuk airdrop pada masyarakat koloni.
Pada intinya kita bisa memodularisasi peradaban, kita bisa menumbuhkan otoritasi langsung pada pelaku yang lahir, tumbuh, dan besar dan secara turun temurun mewarisi peradaban di tiap-tiap daerah. Keputusan peradaban tidak lagi berbasis sentralisasi pusat, atau desentralisasi daerah, namun unit-unit kecil dengan tetap pada praktek-nya di kawal oleh masyarakat-masyarakat yang telah mencapai kesadaran etika dan penaralaran moral yang dapat membangun DAO fungsi pengawasan yang bisa terdiri dari lembaga dan organisasi non profit yang memang dari awal hadir untuk membantu tericiptanya peradaban baru yang ramah dan sustain, dan tentu untuk melindungi jaringan masyarakat baru pasca kapitalisme ini, termasuk melindungi dari upaya jahat oligarki dan korporat yang mungkin akan berusaha menjalin kontrak sosial jahat antara masyarakat koloni yang belum berkesadaran dengan upaya korporat itu untuk mengambil alih kekayaan alam di wilayah masyarakat koloni yang sedang berkembang.
Kita butuh peradaban baru, dan kita harus melakukan hard-fork peradaban jika seandainya kita tidak mampu mengambil alih negara dari tangan-tangan korupt.
Banjir di sumatra seharusnya bisa menjadi titik kepekaan masyarakat tentang kepada siapa tanggung jawab terkait kebijakan di delegasikan, termasuk mengenai alih fungsi lahan yang mendesforestasi lingkungan hanya demi penyediaan lahan bagi para korporat berbondong-bondong mengakumulasi kekayaan materi dan berlomba memuncaki list orang terkaya di negeri ini melalui pertumbuhan kerajaan-kerajaan bisnis keluarga-nya.
Sunguh menyedihkan, bukan hanya tentang warga-warga yang selalu menerima dampak tragis kerusakan alam melalui tangan orang-orang korupt yang diberikan otoritas untuk mengambil keputusan dan menyerahkan tanah masyarakat yang lahir dan besar di suatu tempat, maupun masyarakat adat pada orang-orang tamak yang menjalankan kapitalisme koruptif demi melayani kebutuhan pasar global, dengan dalih pertumbuhan ekonomi yang tiada pernah terjadi karena mereka-mereka, para oligarki dan pejabat-pejabat yang berotoritas dan menerima keuntungan dari kolusi memutuskan untuk menjual rupiah ke asset lain dan menyimpannya di tempat-tempat yuridiksi yang menawarkan safe haven bagi terjaganya kekayaan dan penghindaran terhadap pajak.
Dan kita terus diam? Atau mereka yang berkuasa berpura-pura tuli untuk tidak mendengar?
Seberapa lama lagi kita harus bertahan dengan tingkah koruptif mereka ini? tidakkah dalam pikiran para penguasa, bahwa tidak selamanya peradaban manusia berhenti di sebuah era? Tidakkah mereka melihat bahwa kapitalisme sedang menghadapi ajal-nya? Tidakkah mereka menyadari bahwa peradaban kita tidak memiliki kompatibilitas menyeluruh dalam arti ‘mendeploy peradaban di atas sistem kapitalisme?’
Lagipula sejak kapan?
Bukankah sistem ini pada dasarnya adalah upaya untuk menghentikan kolonialisasi berlandaskan perampasan sumber daya alam yang terjadi selama era kolonialisme? Bukankah ada peranan politis di balik upaya menumbuhkan paham kapitalisme di tanah-tanah yang kaya akan sumber daya alam yang masyarakatnya bercorak budaya sosial?
Atau kemudian dengan menumbuhkan kapitalis-kapitalis kecil yang tamak, rakus dan gila mengejar akumulasi kekayaan, dan meminta mereka menyediakan sumber daya alam di negaranya untuk memenuhi kebutuhan dunia; pada dasarnya adalah kepanjangan tangan dari kolonialisme gaya baru yang bahkan bertahan hingga saat ini?
Kita butuh orang-orang yang memiliki kesadaran etika, dan penalaran moral untuk membangun peradaban, namun para kolonialis lokal memilih untuk menciptakan kontrak kerusakan dengan para pejabat korupt melalui relasi klientelistik dan patronase?
Kita butuh membangun standar pendidikan baru bagi generasi pembaharuan, kita bisa memulai untuk terlepas dari sekat pendidikan yang bahkan sudah rusak di negeri ini, kita perlu menumbuhkan kesadaran bahwa esensi utama dalam pendidikan tidak hadir dalam pendidikan formal belaka, namun pendidikan lebih daripada itu; ialah upaya untuk menemukan, mengekstraksi dan menginternalisasi nilai-nilai kedalam kesadaran, sehingga menjadi bagian yang terintegrasi dengan kesadaran itu sendiri; membentuk pola pikir dan prilaku dalam mengambil keputusan.
Kita bisa atau tetap memulai maupun menjalankan pendidikan formal, jika dan hanya jika individu telah berhasil menginternalisasi nilai-nilai dasar yang benar-benar berguna dalam menghadirkan nilai-nilai sederhana seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
Ketika dia tumbuh dewasa, penting untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih jauh; sensibilitas moral, penalaran moral, altruisme, dan nilai-nilai lainnya atau bagi para kapitalis di era post-kapitalisme nantinya adalah nilai-nilai sosial, dan filantrofik yang harus ditumbuhkan sebagai trajektori utama mengenai alasan mengapa mereka berbisnis, bukan lagi tentang mengakumulasikan kekayaan untuk dinikmati oleh ego semata.
Kita bisa menciptakan peradaban yang benar-benar baru; peradaban berbasis sociokolektivisme yang di modernisasi dengan keintegrasiannya dengan teknologi AI, Blockchain dan IoT, dan sistem-sistem pembentukan pemerintahan berbasis modular.
Kita akan membentuk jaringan masyarakat koloni yang terhubung pada node kesadaran tentang kebajikan moral dan kebajikan intelektual yang menjadi dasar dalam proses pembangunan dan perjalanan evolusi peradaban di tiap-tiap koloni teredesentralisasi, kita bisa membuat maupun menyempurnakan prototipe skala peradaban kardashev sebagai upaya untuk mentracking dan mencari sistem modular yang relevan dengan keadaaan awal masing-masing peradaban koloni masayrakat yang akan di bangun.
Dan yang pasti adalah, kita menghilangkan peranan pemerintahan pusat sebagai pembuat kebijakan yang berimplikasi kepada nasib masyarakat di tingkat paling dasar, kita akan menghilangkan kementrian dan dpr sebagai dua entitas yang membuat dan menentukan penolakan maupun persetujuan kebijakan.
Kita dapat menghadirkan sistem baru berbasis DAO Governance di tingkat unit terkecil masyarakat yaitu masyarakat adat maupun pedesaan yang masih memegang atau mendeploy kehidupannya melalui sistem yang sustain dengan alam.
Kita tidak lagi percaya dengan sistem berbasis pemerintahan pusat, maupun desentralisasi kuno versi pemerintahan daerah, kita harus menghilangkan hierarkis karena kita melihat otoritas yang diberikan pada segelintir orang cenderung bersifat destruktif karena itu bisa menjadi celah transaksi antara oligarki dan korporat dengan pejabat korupt yang menerima suap dan menyerahkan tanah milik masayrakatnya di beberapa tempat untuk di ambil para korporat dan mengubah fungsi lahan.
Kita harus mengambil alih negara, membubarkan sistem yang ada, dan mengubah pemerintahan pusat menjadi tempat dimana orang-orang etis, berintegritas, para ahli di berbagai bidang membangun lembaga tink-tank dan memproduksi Civilization SDK atau Governance SDK untuk kemudian dapat digunakan oleh masayrakat-masyarakat koloni DAO governance memilih sistem atau meminta masukan mengenai sistem yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu.
Dan untuk memastikan bahwa peradaban bertumbuh dengan arah, kita bisa membuat gerakan ‘para implementer’ gerakan ‘penyuluh peradaban masa’ gerakan dimana sekumpulan orang-orang dengan ilmu pengetahuan dan ketulusan yang dimilikinya; bersedia untuk di deploy di sistem masyarakat koloni-koloni DAO Governance untuk menumbuhkan kesadaran maupun memantik semangat pembangunan, para penyuluh peradaban masa akan mengajarkan masyarakat bagaimana cara mengkonversi hukum alam seperti perbedaan tekanan udara maupun energi potensial dari air terjun, maupun panas, dan gelombang lautan menjadi listrik, atau mengajarkan bagaimana cara memproduksi air bersih, membangun sitem pertanian modern, mengajarkan mereka membentuk guild bersama di dalam sistem sociokolektivisme ini, masyarakat akan tergabung dalam guild yang beragam dari mulai infrastrutkur air, listrik, perkebunan, pertanian, peternakan, pendidikan, guild kesehatan, dan guild lainnya termasuk fungsi pelayanan dan fungsi penyediaan untuk memastikan mereka bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar bersama dalam hidup, lalu mengirimkan penyuluh untuk mengumpulkan sejarah mereka, kepercayaan, tradisi, filosofi, yang kelak membantu membuat arah dan roadmap peradaban ini kedepannya, para implementer ini juga yang membantu menjalankan fungsi DAO Governance yang di tradisionalisasi namun tetap dengan prinsif keterbukaan dan transparansi.
Akan ada banyak peradaban alternatif tumbuh, termasuk contoh sederhana koloni masyarakat berbasis DAO governance yang telah maju, mereka bisa mengadopsi sistem ekonomi berbasis komunal, dan sebagaimana sistem perekonomian pada dasarnya; bagaimana menarik liquiditas dari luar ke dalam koloni, untuk kemudian dikonversi ke dalam pembangunan prasarana infrastruktur yang dinikmati bersama, mereka tidak lagi fokus merusak alam, mengekploitasi alam, mereka bisa berdagang karbon dengan merawat dan menghijaukan sisa ruang koloni yang dimilikinya, mereka bisa menerima modal awal dari pemerintahan pusat misal 1 triliun, yang kemudian menggunakan sistem UBI di bagi ke ribuan masyarakat koloni, 1 triliun itu digunakan untuk membeli asset ETH untuk stake ETH dan delegate sebagai sesama anggota koloni, atau stake di koin lain yang memungkinkan menerima APR lebih banyak dengan resiko fluktuasi yang lebih menantang tentunya, keuntungan yang di dapat pada akhirnya adalah bagian dari proses membawa liquiditas ke dalam koloni peradaban.
Di koloni itu mereka menggunakan hadiah hasil proof of stake ETH untuk bertransaksi baik dengan menswapnya ke stable coin, atau koin favorit mereka untuk berdagang dalam konteks antara masyarakat di dalam koloni, mereka juga bisa menyewakan tempat atau membuat ekstension kusus bagi para pengembang inovasi blockchain tinggal di koloni itu dan turut berkonstribusi dalam upaya menarik liquiditas ke dalam peradaban koloni, atau bisa membuat kontrak sosial kerjasama pengimplementasian penggunaan blockchain dalam dunia nyata dengan pengembang yang berhasil menerima pendanaan besar dan bersedia menyerahkan sebagaian alokasi asset untuk dibagi dalam bentuk airdrop pada masyarakat koloni.
Pada intinya kita bisa memodularisasi peradaban, kita bisa menumbuhkan otoritasi langsung pada pelaku yang lahir, tumbuh, dan besar dan secara turun temurun mewarisi peradaban di tiap-tiap daerah. Keputusan peradaban tidak lagi berbasis sentralisasi pusat, atau desentralisasi daerah, namun unit-unit kecil dengan tetap pada praktek-nya di kawal oleh masyarakat-masyarakat yang telah mencapai kesadaran etika dan penaralaran moral yang dapat membangun DAO fungsi pengawasan yang bisa terdiri dari lembaga dan organisasi non profit yang memang dari awal hadir untuk membantu tericiptanya peradaban baru yang ramah dan sustain, dan tentu untuk melindungi jaringan masyarakat baru pasca kapitalisme ini, termasuk melindungi dari upaya jahat oligarki dan korporat yang mungkin akan berusaha menjalin kontrak sosial jahat antara masyarakat koloni yang belum berkesadaran dengan upaya korporat itu untuk mengambil alih kekayaan alam di wilayah masyarakat koloni yang sedang berkembang.
Kita butuh peradaban baru, dan kita harus melakukan hard-fork peradaban jika seandainya kita tidak mampu mengambil alih negara dari tangan-tangan korupt.
No activity yet