Daftar yang Anda baca di bawah ini bukan sekadar deretan nama, melainkan jati diri dan silsilah kehormatan tanah Soppeng. Mengingat pentingnya data ini bagi generasi mendatang, saya memutuskan untuk menyimpan daftar ini di jaringan blockchain melalui platform Paragraph.
Tujuan saya hanya satu: memastikan bahwa sejarah kepemimpinan Kedatuan Soppeng tidak akan pernah hilang, terhapus, atau berubah, selama internet masih ada. Ini adalah kontribusi kecil saya dalam menjaga warisan leluhur kita agar tetap abadi dan bisa diakses oleh anak cucu hingga ratusan tahun ke depan.
Silakan menyimak daftar lengkap Datu Soppeng di bawah ini.
Sejarah Soppeng tidak dapat dilepaskan dari nama-nama Datu Soppeng yang memimpin kedatuan ini sejak abad ke-13. Dalam tradisi Bugis, Datu bukan sekadar raja, melainkan pemimpin adat yang lahir dari kesepakatan bersama, penjaga keseimbangan antara rakyat, bangsawan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejarah Kedatuan Soppeng bermula pada tahun 1261, dengan munculnya La Temmamala, yang dikenal sebagai Manurung-é ri Sekkanyili. Ia tercatat sebagai Datu Soppeng pertama. Dalam tradisi masyarakat Bugis pada masa itu, kehormatan seorang bangsawan sering dikaitkan dengan kepemilikan senjata tradisional Bugis bernama badik.
Dalam kepercayaan Bugis, manurung adalah sosok yang diturunkan untuk menyatukan masyarakat yang sebelumnya hidup tanpa pemerintahan terpusat. Pengangkatan La Temmamala menandai lahirnya sistem pemerintahan Soppeng yang berlandaskan adat dan musyawarah.
Setelah La Temmamala, tampuk kekuasaan dilanjutkan oleh:
La Marancina
Lambang ( La Ba)
We Tekké Wanua
Nama-nama Datu Soppeng pada periode awal ini menunjukkan fase konsolidasi kedatuan dan penguatan struktur adat.
Memasuki fase berikutnya, Kedatuan Soppeng dipimpin oleh sejumlah Datu yang memerintah dalam rentang waktu relatif panjang, menandakan stabilitas politik, antara lain:
La Makkanengnga
La Makkarella
La Pawiséang
Pada masa para Datu ini, Soppeng mulai memperluas pengaruh dan membangun hubungan dengan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya.
Dalam historiografi Bugis, beberapa nama Datu Soppeng disertai keterangan matinro-é (tempat wafat), yang berfungsi sebagai penanda sejarah penting, seperti:
La Mannusa (Matinro-é ro Tanana)
La Sekati (Mallajang-é ri Asélé)
Penyebutan ini membantu membedakan tokoh yang memiliki nama serupa dan memperkuat ketepatan pencatatan sejarah.
Pada periode ini pula muncul tokoh-tokoh seperti:
La Mataesso To Maccora
La Mappaleppé Patola-é
yang menandai keterlibatan aktif Soppeng dalam dinamika politik regional Sulawesi Selatan.
Catatan tambahan: Menurut penuturan lisan dan catatan silsilah keluarga (Lontara), La Mataesso juga kerap dikenal dengan gelar Datu Lawelareng. Hal ini mempertegas luasnya pengaruh kepemimpinan beliau di masa itu.
Pengaruh Islam yang menguat pada abad ke-17 membawa perubahan pada gelar kepemimpinan. Beberapa Datu Soppeng mulai menggunakan gelar Sultan.
Tokoh penting pada fase ini adalah:
La Patau' Matanna Tikka, bergelar Sultan Alimuddin Idris (1696-1714)
Setelahnya, tampuk kekuasaan dipegang oleh:
La Padangsajati To Appamolé
La Pareppa' To Sappéwali (Sultan Ismail)
Batari Toja Daéng Talaga (penguasa perempuan)
Periode ini menegaskan bahwa kepemimpinan di Kedatuan Soppeng tidak sepenuhnya dibatasi oleh gender.
Memasuki abad ke-18 hingga ke-19, Kedatuan Soppeng dipimpin oleh:
La Mappajanci Daéng Massuro
La Mappapoléonro (Sultan Nuh)
Wé Tenri Awaru
Tekanan kolonial yang semakin kuat menyebabkan berkurangnya kedaulatan pemerintahan adat.
Datu terakhir yang tercatat dalam sejarah Kedatuan Soppeng adalah La Wana. Ia dikenal sebagai Datu Soppeng terakhir, sekaligus simbol berakhirnya era pemerintahan tradisional di Soppeng.
Berikut adalah tabel daftar nama Datu Soppeng yang disusun secara kronologis berdasarkan sumber lontara dan historiografi Bugis populer. Tabel ini bertujuan memudahkan pembaca mengenali urutan kepemimpinan Kedatuan Soppeng dari masa awal hingga akhir.
La Temmamala (1261–1286) — Manurung-é ri Sekkanyili
La Marancina (1286–1311)
Lambang (La Ba) (1311–1336)
Wé Tekké’wanua (1336–1361)
La Makkanengnga (1361–1386)
La Makkarella (1386–1411)
La Pawisêang (1411–1436)
La Pasampoli (1436–1461) — Sonrompali-é
La Mannusa (1461–1486) — To Wakkarangeng / Matinro-é ri Tanana
Laddé’ Mabbolong-é (1486–1511)
La Sekati (1511–1536) — Mallajang-é ri Asélé
La Mataesso To Maccora (1536–1561) — Puang Lipu-é
La Mappaleppe’ (1561–1586) — Patola-é / Arung Bélo
Bé’o-é (1586–1611)
La Tenribali (1611–1654) — Matinro-é ri Datunna
Wé Adda (Wé Addang) (1654–1666) — Matinro-é ri Madello
La Tenrisengngeng To Ésa (1666–1696) — Matinro-é ri Salassana
La Patau’ Matanna Tikka (1696–1714) — Sultan Alimuddin Idris
La Padangsajati (1714–1721) — To Appamolé / Arung Palakka / Arumpone XVIII
La Pareppa’ (1721–1722) — Sultan Ismail
La Padassajati (1722–1727) — To Appamolé / Arumpone XVIII
Batari Toja (1727–1737) — Sultanah Zainab Zakiatuddin
La Oddangriu (1737–1742) — Sultan Fakhruddin
Batari Toja (1742–1744) — Sultanah Zainab Zakiatuddin
La Temmassonge’ (1744–1746) — Sultan Ahmad Zakiatuddin
La Tongeng ri Longeng (1746–1747) — Matinro-é ri Mallimongeng
La Mappajanci (1747–1765) — Sultan Musa
La Mappapoléonro (1765–1820) — Sultan Nuh
Wé Tenri Awaru (1820–1840) — Sitti Hawa (Pajung Luwu XXV)
Wé Tenriampareng (1840–1849) — Datu Lapajung (Matinro-é ri barugana)
La Unru’ (1849–1850) — Datu Pattiro (Matinro-é ri-tengngana Soppéng)
La Onrong (1850–1858) — Datu Lompulle’, Datu Pattiro, Arung Ganra, Arung Ajjakkang
To Lempéng (1858–1878) — Sultan Ahmad Al Kasyiasyi / Arung Singkang
Abdul Gani (Wafat 1895) — Baso’ Batuputé / Calabai-é / Matinro-é ri Pakkasalo-é
We Tenriwatu (Wafat 1940) — Sitti Saénabe / Datu Lapajung / Matinro-é ri Laburawung
La Wana (1940–1957) — Arung Ganra / Arung Lalabata / Matinro-é ri Lamappapoloware’
Deretan nama-nama Datu Soppeng dalam list di atas menunjukkan kesinambungan kepemimpinan adat yang berlangsung selama lebih dari enam abad. Dari La Temmamala sebagai Manurung pertama hingga La Wana sebagai Datu terakhir, Kedatuan Soppeng berdiri di atas adat, musyawarah, dan legitimasi kolektif.
Menjaga dan meriset sejarah digital bukanlah perjalanan yang singkat. Dibutuhkan ketelitian dan dedikasi agar silsilah serta peristiwa masa lalu tetap terjaga kebenarannya bagi anak cucu kita.
Jika Anda merasa tulisan dan upaya pengarsipan digital ini bermanfaat, Anda bisa memberikan apresiasi melalui tombol Support di bawah ini. Dukungan Anda akan sangat membantu biaya operasional riset lapangan dan pengembangan perpustakaan digital sejarah Soppeng ini agar tetap mandiri dan terus tumbuh.
Terima kasih telah menjadi bagian dari penjaga sejarah daerah kita

