Cover photo

Cloud Architect

Cloud architect merupakan seseorang yang membuat rancangan dari semua struktur dan komponen sebuah cloud service agar beroperasi dengan baik serta mudah diakses oleh klien.

Seorang cloud architect setidaknya dituntut untuk menguasai beberapa skill dan keahlian, yaitu:

  • Memiliki pemahaman yang baik tentang jaringan, termasuk TCP/IP, HTTP, DNS, IT addresses, dan lain sebagainya.

  • Memiliki pengetahuan tentang open-source tools seperti Kubernetes dan Docker.

  • Memahami bahasa pemrograman, seperti SQL, Java, JavaScript, .Net, Perl, Phyton, dan Ruby.

  • Mengerti tentang data storage. Seorang cloud architect perlu memahami bagaimana dan kapan harus menggunakan pusat data. Pemahaman ini melibatkan pengetahuan tentang perangkat keras, wadah penyimpanan, dan infrastrukturnya.

  • Memahami cybersecurity. Keamanan data adalah fitur cloud yang sangat penting. Memiliki pengetahuan tentang konsep security, seperti firewall dan fungsinya adalah salah satu prasyarat yang harus dimiliki cloud architect.

  • Berpengalaman di ITSM, I&O, otomasi, manajemen, dan tata kelola vendor.

  • Memiliki soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, dan pendelegasian tugas.

  • Punya sertifikasi sebagai seorang cloud architect profesional.

Pada tingkat kerjanya sendiri, seorang cloud architect digolongkan menjadi tiga jenis yaitu level pemula, menengah, dan lanjut. Berikut ini adalah kualifikasi skill/kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang cloud architect pada setiap levelnya.

  • Entry Level Untuk menjadi cloud architect tingkat pemula, seseorang setidaknya harus memiliki beberapa kualifikasi. Gelar sarjana dalam ilmu komputer atau IT sering kali diperlukan. Pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperlukan untuk pekerjaan ini termasuk keakraban dengan berbagai sistem operasi, seperti macOS, Microsoft, dan Linux. Pengetahuan tentang bagaimana server bekerja pada sistem ini, serta pada mesin komputasi berpemilik yang digunakan oleh perusahaan seperti Google dan Amazon (lebih disarankan untuk mempelajari protokol amazon atau AWS karena penggunaannya lebih komersil). Selain pengetahuan dari protokol cloud seperti AWS atau Googlecloud, diperlukan juga sertifikasi pemula yang diperoleh melalui kegiatan bootcamp atau kursus yang telah banyak disediakan di internet (biasanya berbayar). Pengetahuan khusus tentang protokol internet dan arsitektur server juga penting. Arsitek cloud tingkat pemula juga membutuhkan latar belakang dalam keamanan TI. Pengalaman pemrograman tidak selalu diperlukan, tetapi keakraban dengan bahasa scripting (bash, powershell) sering kali membantu.

  • Middle Level Di level ini, seharusnya seorang cloud architect sudah mampu menguasai secara penuh kualifikasi skill di level pemula. Kemudian, sebagai tambahan, seorang middle level cloud architect sudah memiliki sertifikasi di level menengah dari platform-platform cloud seperti Microsoft Azure, Google Cloud Platform (GCP), Amazon Web Service (AWS), atau sertifikasi dari platform cloud setara lainnya. Pengetahuan dan penerapan untuk merancang sebuah arsitektur cloud merupakan salah satu skill lanjutan bagi seroang middle level cloud architect. Yang terakhir, untuk menunjang kemampuan dalam menginstruksikan sebuah arsitektur cloud, seroang middle level cloud architect juga ditutuntut untuk memahami bahasa pemrograman terkait dengan pengembangan sistem dan basis data seperti java, ruby, python, mysql, dan lain-lain.

  • Advanced Level Di level lanjut, seorang cloud architect harus mampu menjadi pemimpin di timnya. Mengelola sumber daya cloud dan memproyeksikannya kepada sebuah rancangan sistem yang efektif dan mampu beroperasi dengan minim downtime adalah salah satu kemampuan yang diunggulkan oleh seorang Cloud architect tingkat lanjut. Sertifikasi lanjut oleh platform cloud juga menjadi prerekuisit wajib untuk seseorang memenuhi kualifikasi di tingkat ini. Banyak sekali skill dan kemampuan lain yang harus dikuasai oleh seseorang untuk dapat mencapai tingkat lanjut dari profesi cloud architect. Ini termasuk arbitasi sistem, implementasi metodologi devops, pengelolaan lanjut kubernetes atau docker, dan lain-lain termasuk penguasaan lanjut dari skill di tingkat sebelumnya.

Terakhir, seorang cloud architect biasanya ditempatkan pada bisnis-bisnis multi-skala (kecil hingga besar) yang membutuhkan sistem cloud sebagai penunjang atau rangkaian utama dalam aliran data bisnis mereka. Perusahaan teknologi besar seperti Netflix misalnya, menggunakan cloud untuk mengintegrasikan koleksi film atau series yang tersedia di platform mereka, dengan data-data user sehingga mereka mampu mengembangkan sebuah ekosistem dari platform streaming berlangganan yang digunakan oleh sekitar 223 juta per 30 September 2022 ( Sumber: Tempo). Tentunya, untuk mewujudkan ekosistem dan integrasi yang sebesar ini diperlukan seorang arsitek yang merancang sistem cloud mereka.