
Saya pikir naratif ‘store of value’ (penyimpan nilai) dan kesalahpahaman tentang apa mata uang “fiat” itu sebenarnya adalah masalah besar yang merusak keseluruhan dunia kripto. Dengan memahami secara jujur masalah ini, kita bisa benar-benar mampu membangun sesuatu yang lebih baik.
Hanya karena memiliki suplai yang terbatas, bukan berarti ia merupakan aset penyimpan nilai yang bagus. Yang seharusnya kita bangun adalah aset-aset produktif dan stablecoins.
Berikut adalah beberapa tesis inti yang saya percayai dan akan coba ilustrasikan dalam bentuk tulisan penuh di artikel ini:
Naratif ‘store of value’ agak kurang masuk akal. Tidak ada suatu hal yang merupakan jalan paling terjamin untuk “mewariskan” nilai ke masa depan. Dan hanya memiliki sebuah aset dengan jumlah suplai tetap tidak menyediakan solusi itu.
Kalau ingin bertaruh sebaik mungkin untuk meneruskan sebanyak mungkin nilai ke masa depan, yang kalian sebenarnya butuhkan adalah aset produktif (untuk jangka panjang) dan stablecoins (untuk kebutuhan dana dalam jangka pendek).

Begini wujud umum naratif aset kripto:
“Lihat tuh mata uang fiat. $1 USD dari tahun 1950 memiliki nilai sekitar 10 kali lipatnya daya beli $1 USD saat ini. Scam itu! Kalau kalian menyimpan nilai dalam bentuk dolar AS, maka kalian rugi secara konstan karena inflasi. Ini karena bank sentral / pemerintah bisa tinggal mencetak lebih banyak dolar AS. Kalian seharusnya menyimpan nilai dalam sebuah aset dengan suplai yang dapat diprediksi, seperti emas atau Bitcoin, yang tidak memiliki masalah seperti fiat.”
Bagian yang benar dari pernyataan itu adalah kalau kita menyimpan uang dalam bentuk USD, ya kita sudah pasti kehilangan sebagian besar daya beli kita dalam beberapa dekade. Itu sudah jelas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Pertanyaannya adalah, apakah ada cara lain (yang tersirat oleh istilah ‘store of value’) yang menawarkan solusinya?
Para pendukung naratif ‘store of value’ akan mengklaim bahwa aset dengan suplai yang dapat diprediksi adalah jawabannya. Yah, tentu aja itu benar, data historis mendukung pernyataan itu sampai batas tertentu: Kalau kalian tadinya memilih emas daripada menyimpan nilai dalam bentuk USD, kalian sudah pasti jauh lebih baik nasibnya:
Kalian bisa beli emas per ‘troy ounce’ seharga $35 di tahun 1950, dan sekarang nilainya ada di sekitar $1.846 (harga pada saat penulisan ini, 21 Mei 2022, menurut BullionByPost). Mengingat bahwa nilai dolar AS sudah turun 10 kali lebih rendah saat ini dikarenakan inflasi, jadi perhitungan nilai emas kita sekarang adalah $184,6 menurut dolar AS di tahun 1950 (atau kenaikan nilai 5 kali lipat).
Namun ada performa yang jauh lebih baik daripada itu:
Kalau kita investasikan $35 tadi ke dalam S&P 500 di tahun 1950, maka kita sekarang duduk pada nilai luar biasa tinggi sebanyak $83.314,87, yang merupakan kenaikan 237 kali lipat setelah menyesuaikan kerugian 10x daya beli dolar AS (jadi $8.331,48 menurut nilai dolar tahun 1950).
Jadi jelas, investasi ini merupakan ‘store of value’ yang jauh lebih baik daripada berinvestasi emas.
Nah, sekarang, performa Bitcoin JAUH lebih mantap lagi daripada emas dan S&P 500 keduanya selama 10 tahun terakhir. Tapi ini adalah rentang waktu yang sangat singkat, sejak Bitcoin beranjak dari kelas aset khusus yang kecil menjadi sebuah aset yang kebanyakan orang di dunia sudah pernah dengar dan tempat sejumlah kecil masyarakat menginvestasikan uang mereka. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa performanya dapat berulang terus-menerus (banyak analis berargumen memang tidak bisa). Data historis emas berkata, selama periode waktu yang panjang, aset ‘store of value’ yang murni hanya mengandalkan “suplai terbatas” akan berperforma lebih buruk daripada aset-aset yang produktif.
Vitalik Buterin, salah satu pendiri Ethereum, sempat menunjukkan bahwa argumen ini terlalu keras menekan Bitcoin, karena suplai emas telah meningkat jauh lebih banyak (sekitar 3x) sejak tahun 1950 daripada suplai Bitcoin, selama periode waktu serupa. Yah, saya pikir itu tidak menjelaskan performa laba yang terpaut sangat jauh antara emas dan S&P 500.

Lalu, kenapa orang-orang percaya emas atau Bitcoin dapat menjadi aset ‘store of value’ yang lebih baik, daripada hanya berinvestasi pada aset-aset produktif seperti perusahaan, real estate, dll.? Ada dua alasan yang muncul:
Pasar saham jelas mengalami lebih banyak volatilitas. Jadi mungkin mereka percaya aset produktif adalah aset ‘store of value’ yang bagus untuk jangka panjang, tapi tidak untuk jangka pendek.
Orang yang percaya pada aset ‘store of value’ dengan “suplai terbatas” memiliki pola pikir apokaliptik (akhir zaman / kiamat dunia sudah dekat). Jadi mereka percaya bahwa dalam kasus keruntuhan dunia yang besar, aset ‘store of value’ mereka entah bagaimana akan berperforma lebih baik daripada aset-aset yang lebih produktif.
Argumen nomor 1 tidak meyakinkan saya sama sekali. Itu harus bergantung pada aset ‘store of value’ yang mereka sukai untuk mengalami volatilitas lebih ringan daripada aset produktif, yang padahal tidak terbukti dalam realitanya. Emas dan Bitcoin keduanya jauh lebih volatil daripada memegang sebuah pelacak dana S&P 500. Kalau kalian ingin volatilitas rendah, ya sebaiknya memperhatikan aset-aset produktif.
Argumen nomor 2 artinya kalian bisa dengan mudah “mengirimkan” nilai ke masa depan bahkan ketika masyarakat dunia kolaps. Saya pikir itu merupakan kepercayaan yang cukup gila— karena saat masyarakat dunia kolaps, nilai yang dapat kalian beli beserta permintaan atas “aset bersuplai terbatas” itu juga akan berkurang drastis.
Tentu saja, orang berpikir perusahaan-perusahaan (dan karenanya S&P 500) kemungkinan besar akan turun, tapi aset-aset lain pun juga tidak memiliki performa lebih baik:
Apakah properti real estat aset ‘store of value’ yang bagus di saat malapetaka? Properti sebagian besar bernilai karena hubungannya dengan aktivitas ekonomi dan sosial yang berharga. Properti di pusat Manhattan sangat bernilai tinggi karena itu adalah sebuah kota tempat banyak orang ingin tinggal. Sebidang lahan tidak jelas di tengah antah berantah biasanya tidak berharga. Kemungkinannya kecil untuk berperforma baik di saat bencana alam besar terjadi (dan bahkan mungkin lebih payah valuasinya daripada properti dengan sebuah taman untuk menanam dan menumbuhkan sayur-sayuran kalian sendiri)
Demikian pula nilai yang terkait dengan emas adalah bentuk konvensi sosial, meskipun telah berlangsung untuk waktu yang sangat lama. Masyarakat bisa aja memutuskan satu aset baru untuk dinilai tinggi, yang memang ini jadi alasan utama “Bitcoiner”. Tapi yang lebih penting, emas kalian tidak bernilai apa pun kalau tidak ada barang yang cukup memiliki nilai untuk dibeli.
Kalau kita terima kenyataan bahwa nilai sebuah aset bergantung pada masyarakat yang menyediakan hal-hal bernilai, kita harus menerima bahwa ya tidak ada cara paling terjamin untuk mengirim uang ke masa depan. Mending kalian berinvestasi nyata ke dalam aset-aset produktif.

Di atas, saya berargumen kenapa saya pikir “aset store of value bersuplai terbatas” (aset tak produktif seperti emas atau Bitcoin, yang memperoleh nilai mereka hanya karena langka dan bukan karena nilai utilitas) tidak unggul melawan aset-aset produktif seperti saham. Mereka mengalami volatilitas yang sama atau malah lebih tinggi, tapi setidaknya untuk emas (yang mana kita punya lumayan banyak sejarah tentangnya) kalah saing dengan aset-aset produktif dalam jangka panjang. Hal yang sama kemungkinan akan terjadi pada Bitcoin sekalinya BTC menyerap semua permintaan awal dan sampai pada posisi stabil seperti emas (BTC kehilangan sebagian besar nilainya yang saat ini juga merupakan sebuah kemungkinan). Mereka juga tidak berperforma lebih baik di saat bencana; kalau ini yang kalian takuti sebaiknya kalian membeli hal-hal yang berguna untuk saat malapetaka.
Ini artinya aset-aset produktif seharusnya merupakan ‘store of value’ yang lebih baik untuk jangka panjang, karena mereka lebih baik di segala dimensi.
Tapi jelas, volatilitas yang terkait dengan mereka tidak diinginkan banyak aplikasi yang menjadi penggunaan mata uang fiat saat ini: Saya tidak berpikir banyak orang akan menghargai gajinya yang naik-turun sebesar 50% dari bulan ke bulan; faktanya mayoritas orang bakal kewalahan membayar semua biaya pengeluaran mereka kalau gaji tiba-tiba jatuh sedalam 50%. Banyak orang ya butuh atau ingin lebih banyak kestabilan daripada itu.
Demikian pula, kalau menyimpan uang untuk membeli rumah dalam waktu dekat, atau menjalankan perusahaan yang menyimpan cadangan tunai untuk memastikan pembayaran karyawan dan pemasok, kalian butuh stabilitas.
Bahkan kalau kita berasumsi semua orang tiba-tiba mulai menggunakan Bitcoin, itu tetap saja tidak akan memperbaiki masalah ini. Karena suplainya tidak dapat disesuaikan secara dinamis, nilainya akan terus-menerus volatil dikarenakan fluktuasi ekonomi.
Untungnya, ada beberapa mekanisme untuk menciptakan stablecoins, meninggalkan aset-aset yang volatil hanya untuk situasi tertentu. Salah satu sistem favorit saya adalah ide di balik MakerDAO dan DAI, yang akan saya buatkan tulisannya segera!

Saya pikir kita perlu menjadi pemikir yang lebih bernuansa di alam kripto, dan mulai melihat properti nyata dari sistem yang kita usahakan untuk bangun ulang… kalau kita ingin berhasil. Saya pikir mata uang fiat seperti yang kita ketahui saat ini telah cukup sukses, selama kita memandang mereka sesuai dengan wujudnya: Taruhan melawan volatilitas jangka pendek, daripada memaksimalkan nilai jangka panjang.
Saya percaya kripto bisa sangat meningkatkan sistem keuangan saat ini, tapi semoga bukan hanya dengan menyediakan aset bersuplai terbatas (yang tidak akan menyelesaikan sebagian besar masalah penting kita). Sebagai gantinya, kita seharusnya memastikan aset-aset kita produktif untuk memaksimalkan nilai jangka panjang, dan menciptakan stablecoins untuk penggunaan saat volatilitas harus dihindari. Sistem seperti ini akan meningkatkan sistem keuangan kita saat ini, karena:
Itu jauh lebih transparan— siapa pun bisa memverifikasi neraca belanja dan eksposur, bukan hanya perusahaan audit spesial. Ini cukup penting, karena saat ini eksposur bank yang teperinci tidak tersedia secara publik, yang artinya deposan tidak tahu banyak tentang bank-bank untuk membuat keputusan yang matang dalam memilih siapa yang bisa mereka percayai.
Kita bisa membuatnya lebih adil— memberikan akses kepada semua orang dengan syarat yang sama. Sebagai contoh, kenapa bank-bank punya akses ke rekening bank sentral sedangkan orang dan perusahaan biasa tidak punya?
Tata kelola bisa ditingkatkan, membawa semua orang ke meja yang sama untuk berpartisipasi dalam keputusan-keputusan besar yang harus dilakukan (seperti ‘Quantitative Easing’ setelah Krisis Finansial Global).
Menyingkirkan pembawaan barang fisik (misalnya mata uang tunai), memungkinkan fleksibilitas lebih untuk sistem; misalnya tidak perlu inflasi (secara teknis) jika semua saldo berwujud elektronik. Ya meskipun praktiknya mungkin diperlukan untuk alasan psikologis atau biar “harganya lekat”.
Dan yang terpenting, menciptakan sebuah sistem yang tanpa izin dan tahan sensor di mana siapa pun dapat berpartisipasi pada semua tingkatan.
Saya percaya bahwa blockchain dan dApp (Aplikasi Desentral) mirip konsepnya dengan perusahaan lokapasar tradisional. Mereka adalah bisnis internet yang layanannya menghasilkan ‘revenue’ (pendapatan) yang dibagi antara partisipan dari sisi supply dan pemilik proyek. Bisnis-bisnis ini dimiliki dan dioperasikan oleh pemegang token mereka, mirip dengan perusahaan yang dimiliki dan dioperasikan oleh pemegang sahamnya.

Blockchain dan dApp keduanya mengenakan biaya. Biaya tersebut, yang kita hitung sebagai revenue, dapat dibayarkan sebagai (contohnya biaya transaksi, biaya trading, atau pembayaran bunga). Total revenue dibagi antara partisipan dari sisi supply (contohnya penyedia likuiditas) dan pemilik proyek (pemegang token).
Data seperti ini bisa kita akses langsung dari blockchain yang dimaksud, jika memungkinkan. Dalam kasus yang langka di mana tidak ada akses data proyek pada level blockchain, API eksternal bisa digunakan. Selain itu, ada beberapa data off-chain yang bisa dikumpulkan, seperti jumlah kontributor basis kode dari sebuah proyek. Beberapa nama penyedia data pihak ketiga termasuk The Graph, Etherscan, Alchemy, DeFi Pulse, CoinGecko, Coin Metrics, Oracle Uniswap TWAP, Subscan, dan GitHub.
Seperti yang saya singgung di atas, mayoritas protokol kripto yang utama (blockchain dan aplikasi desentral) berfungsi seperti bisnis lokapasar.
Mari kita bongkar apa artinya ini 👇
Pada level tinggi yang umum:
Mereka menyediakan layanan
Mengenakan biaya untuk layanan itu
Mendistribusikan hasil biaya ke antara pemangku kepentingan (partisipan dari sisi supply dan pemegang token)

Bahkan kalau suatu protokol awalnya beroperasi tanpa revenue (misalnya partisipan dari sisi supply mengantongi 100% pendapatan biaya yang dihasilkan), bukan berarti protokol itu tidak bisa mengaktifkan sistem revenue nanti setelah layanannya bertumbuh agar dapat dipertahankan.
Dengan kalimat lain, selama protokol memiliki pengguna yang membayar layanan, mengubah tokennya dari aset “tidak produktif” menjadi aset “produktif” hanya bergantung pada keputusan pemegang token untuk mengaktifkan sistem bagi revenue. Dan demikian, mereka bisa mengarahkan sebagian dari pendapatan hasil biaya layanan pengguna dan protokol kepada para partisipan.
Mari kita teliti beberapa contoh untuk mengilustrasikan poin ini lebih baik.
Pada 12 November, blockchain Bitcoin menghasilkan $981.839,65 dari biaya transaksi, yang semuanya dibayarkan kepada para penambang (‘miners’).
Kalau kalian memandang Bitcoin sebagai protokol yang statis, kalian bisa berargumen bahwa aset BTC murni bersifat spekulatif dan tidak produktif, karena tidak menerima sebagian nilai dari revenue biaya transaksinya. Hanya miners yang merasakannya.

Untungnya, kita sudah bisa merujuk ke blockchain lain yang bernama Ethereum, di mana tokennya berevolusi dari aset tidak produktif menjadi aset produktif yang menghasilkan pendapatan. Ini terjadi melalui proses tata kelola yang mengaktifkan sistem bagi revenue antara miners dan pemegang ETH.
Pada 12 November, blockchain Ethereum menghasilkan $70.246.289,66 dari biaya transaksi, yang $6.685.104,34 dibayarkan kepada miners, dan sisanya yang $63.561.185,32 dibakar untuk kemudian didistribusikan kepada pemegang ETH (mekanisme pembakaran ini berfungsi mirip seperti sistem ‘buyback’ saham).
Kalau kalian memandang Ethereum sebagai protokol yang dinamis, kalian bisa melihat bagaimana aset ETH berevolusi dari tidak produktif menjadi produktif, karena sekarang menerima sebagian nilai dari revenue biaya transaksinya.

Pada 12 November, bursa desentral Uniswap menghasilkan $6.651.894,76 dari biaya trading, yang semuanya dibayarkan kepada penyedia likuiditas.
Kalau kalian memandang Uniswap sebagai protokol yang statis, kalian bisa berargumen bahwa aset UNI murni bersifat spekulatif dan tidak produktif, karena tidak menerima sebagian nilai dari revenue biaya trading-nya.

Untungnya, kita sudah bisa merujuk ke bursa desentral lain yang bernama SushiSwap, di mana tokennya berevolusi dari aset tidak produktif menjadi aset produktif yang menghasilkan pendapatan. Ini terjadi melalui proses tata kelola yang mengaktifkan sistem bagi revenue antara penyedia likuiditas dan pemegang SUSHI.
Pada 12 November, bursa desentral SushiSwap menghasilkan $1.493.064,30 dari biaya trading, yang mana $1.244.220,25 dibayarkan kepada penyedia likuiditas, dan sisanya yang $248.844,05 didistribusikan kepada pemegang SUSHI.
Kalau kalian memandang SushiSwap sebagai protokol yang dinamis, kalian bisa melihat bagaimana aset SUSHI berevolusi dari tidak produktif menjadi produktif, karena sekarang menerima sebagian nilai dari revenue biaya trading-nya.

Bahkan walaupun banyak protokol awalnya didukung dan dibangun melalui penggunaan insentif token atau penambangan likuiditas, cara kerja protokol kripto sama sekali tidak spekulatif dan produktif secara fundamental.
Selama protokol memiliki pengguna yang membayar layanan, satu-satunya hal yang perlu dilakukan untuk membuat asetnya produktif adalah jika para pemegang token memutuskan untuk mengaktifkan sistem bagi revenue melawan partisipan dari sisi supply.
Aset dan protokol kripto ada fundamentalnya! Semakin kita memahami cara kerja teknologi ini, semakin kita menyadari bahwa blockchain dan kripto akan meningkatkan cara kerja bisnis di seluruh dunia lebih baik lagi. Selain itu, kita tidak bisa memungkiri betapa menariknya tawaran sosial dan ekonomi dari revolusi ini.
Berikutnya, saya akan menulis beberapa tesis fundamental lain terkait aset dan protokol kripto. Daftar topik yang sedang dipersiapkan mencakup:
Token kripto sebagai uang
Metrik finansial untuk kripto
Alasan kripto membuka pintu inovasi di internet
Kripto sebagai kelas aset investasi
Peralihan narasi kripto: spekulasi VS produktivitas
DeFi dari kacamata pasar tradisional
Kalau tertarik membaca isi pikiran saya yang selanjutnya, jangan lupa FOLLOW dan SUBSCRIBE!
