Alkisah, Musa sang bayi yang digariskan akan meruntuhkan despot telah tiba dipelukan Firaun; menyusup sebagai sang anak. Asiyah mengangkat kerandanya yang hanyut bersama Nil, tepat membawa Musa ke hadapan musuhnya. Segala penolakan tak berarti bagi waktu, lambat laun kerasnya hati Firaun luruh berterima dengan keberadaan Musa; menerimanya sebagai anak.
Meski luluh, Firaun yang dihantui ramalan atas ujung kerajaannya terus memupuk resah. Kehadiran Musa adalah tanda tanya besar bagi hidupnya. Apakah takdir demikian tak terhindarkan? Akankah Musa menjadi jalan? Tanpa jeda, Firaun terus membaca tanda.
Di lain sisi, Musa masih demikian lugu. Meski bentangan takdir telah ia pandangi, Musa belum dapat berbuat apa-apa; satu katapun tak mampu ia suarakan. Dalam ketidakberdayaan, Musa berserah atas segala ancam yang menyertai Firaun. Niscaya, upaya itu akan datang. Bersama kemurnian seorang bayi, Musa menanti.
Satu waktu, Musa dan Firaun tengah bercengkrama; bermain dekap selayaknya ayah dan anak. Dalam senyap dan lenggangnya istana Firaun, gelak tawa Musa memecah sunyi. Untuk sejenak, kekhawatiran Firaun tersisihkan oleh hangat riangnya bayi yang tengah bersandar dipeluknya. Malam itu, badai seolah takkan datang. Naas, keniscayaan atas bergulirnya tawa dan tangis senantiasa mewujud. Serupa longsor tanpa gemuruh, ketakutan Firaun seketika meruak dan mengambil-alih kendali atas dirinya.
Merambat memanjat di pejal tangan Firaun, mungil tangan Musa menggenggam kesana-kemari. Melihat janggut Firaun yang merambat bak akar gantung, Musa jeratkan tangan dan bergelantung padanya. Firaun meringis, menahan sakit yang bayi tersebut timbulkan. Mulanya ia turut tertawa dengan usilnya tangan-tangan kecil Musa, namun degupnya seakan tertahan kala kata menusuk telinganya.
Rasa perih yang merambat tersisihkan kala Firaun mencerna gelak Musa. Sembari menarik janggutnya, Musa menyeru:
“!ينهار! ينهار”
Segala duri kutukan seketika menyesaki kepala Firaun; ancam ramalan membutakan matanya. Bersama jerit pekik Firaun melempar Musa, segera berlari menghunus pedangnya. Ia memaki, mengutuki Musa dengan segala ramalan yang menyertainya. Pedang di tangan Firaun telah tertuju di leher Musa, menunggu ayun yang menebasnya.
Mendengar teriakan murka, Asiyah segera berlari menghampiri Firaun. Jeritnya pecah melihat sebilah pedang yang terhunus mengarah pada Musa kecil. Dalam beku tegun Firaun, Asiyah segera mendekap Musa; menjadikan tubuhnya perisai. Mengapa hendak kau bunuh anak tanpa dosa? Tantangnya.
Dalam amarah Firaun nyatakan keyakinannya bahwa Musa-lah anak yang diramalkan; pembawa kehancuran bagi kerajaannya. Telah ia saksikan bahwa tak peduli di usia yang baru setunas, Musa telah mengejeknya, memekikkan runtuh sembari menjerat janggutnya. Musa haruslah musnah, pinta Firaun.
Dari sela-sela pertikaian, Musa menyadari ada kesalahan yang ia perbuat. Tempurung kecilnya belum dapat memahami apa, tetapi ia tahu: ada yang seharusnya tak terucap.
Musa masihlah bayi, belum dapat berpikir, tegas Asiyah. Ia sangsikan pengakuan Firaun yang tak dapat dicerna nalar. Tak mungkin seorang bayi dapat mengejek dan menyumpah. Namun Firaun terus berkeras; ketakutannya haruslah terlampiaskan. Menyadari kemelut, Asiyah dengan tenang mencoba meyakinkan Firaun. Ia suguhkan tantangan: atas bara dan kurma, mana yang akan Musa pilih?
Jika Musa telah dapat berpikir, maka tentu ia akan memilih kurma, terang Asiyah. Di hadapan meja tahta, Asiyah jajarkan segenggam kurma dan bara menyala yang ia ambil dari obor. Dalam diam, Firaun bersepakat. Bersama, mereka genggam Musa dan sajikan pilihan tersebut dihadapannya. Musa dibiarkan merangkak di atas meja, menjerang tiap pilihan yang tersaji baginya.
Degup kekhawatiran mengudara. Musa tak paham apa yang sedang terjadi meski tahu bahwa ia harus mengambil keputusan. Ia pandangi dengan binggung kedua benda yang ada dihadapannya, bertanya: untuk apa semua ini tersaji? Ia tahu panasnya bara dan manisnya kurma, namun mengapa mereka terserak untuknya?
Bersama kebingungan yang menerpa Musa, datang hembus angin yang membelainya; memeluk Musa dalam lindungan. Dari kedua telinganya kemudian datang bisikan:
“Telanlah bara itu, maka kau akan bungkam meski dalam siksa api.”

