Cover photo

SISYPHUS : SANG KONSUMER

Alkisah, Sisyphus yang dikutuk oleh Hades untuk berulang-kali menggulirkan batu raksasa menuju puncak gunung masih terjebak dalam takdirnya: Mendorong, terus mendesak maju meski tahu batu itu akan berguling jatuh. Bagi Sisyphus tugas tersebut bukan lagi sebuah kutukan; mendorong batu telah menjadi tujuan hidupnya. Ia rasai arti dalam setiap derita yang disebabkannya.

Telah ribuan kali bumi mengitari sang matahari sementara Sisyphus tetaplah mendorong; tak berubah meski zaman tak terhentikan. Tanpa sadar, kaki-kaki gunung kini telah sesak dipenuhi. Hamparan kebun menyeruak sebagaimana desa yang kian menjamur. Jalur-jalur erupsi yang Sisyphus sebabkan tak ayal temui hambat. Setiap kali batu yang Ia dorong meluncur deras menuruni lembah-lereng, rumah-rumah runtuh terhantam. Tanah yang terkoyak goreti jejak luka pada kebun dan sawah yang dilalui. Sisyphus tak bisa berbuat lebih; tugasnya kini ditentang.

Warga yang terus menjadi korban batu Sisyphus geram; tak lagi dapat bersabar. Berkali-kali mereka pinta Sisyphus untuk berhenti namun tak juga. Dinding-tebing telah mereka bangun, namun tak pernah cukup untuk menampung. Mereka suntik batu itu dengan beton namun selalu tiba waktu. Setiap keruk-tambang pada batu itu hanya akan memperbesarnya. Bersama, mereka sepakati: Sisyphus-lah yang harus dipungkasi.

Dalam gelap, mereka hampiri Sisyphus dan membekuknya dengan senyap. Matanya tertutup sementara di setiap persendian bergerayang tangan yang menjerat. Tanpa aba, dua bilah kapak terhunus memisahkan kaki Sisyphus dari tubuhnya. Darah membanjir. Dalam raung makian Sisyphus, mereka tinggalkan ia memincang. Tanpa kaki.

Masa damai seolah tiba berkat tak ada lagi letup. Sayang, badai niscaya datang. Tak mengenal henti, dalam gemuruh di mula hari, hentak batu kembali menghantam. Sisyphus telah kembali lepaskan genggamnya dari puncak; merelakan batu bergulir, meluncur menerjang. Dengan bertumpu hanya pada kedua lengannya, telah Sisyphus dorong batu itu ke tujunya. Baginya, ini hanya perkara waktu.

Mereka yang kembali menjuluk korban segera meledakkan amarah pada Sisyphus. Tanpa lagi perlu bersembunyi, mereka sambangi Sisyphus yang tengah susah-payah menarik batu yang tertimpa reruntuhan genting. Dalam terik hari mereka hadapkan Sisyphus pada langit, menahan tubuhnya tetap tengadah. Kilau kapak melintasi pelupuk matanya; Sisyphus hanya bisa berserah. Hujam bilah mengentaskan tangannya, dua kali. Sisyphus jeritkan lengannya yang terasa terbakar. Jemarinya tak lagi meraba. Kini ia hanya seonggok tubuh dan kepala.

Sisyphus yang hanya separuh utuh desaukan nafas dalam; bagaimana tugasnya kini? Tak ada lagi padanya genggam. Ia sadari hanya ada satu pilihan baginya: gigit dan seret batu itu ke puncak. Sisyphus tancapkan berbagai pancang di muka batu tersebut. Tali temali melintang, menjadikan kekang untuk ia gerat. Sisyphus sang raja kini perankan kuda bagi kereta kencana.

Tak peduli berapapun waktu yang Sisyphus butuhkan, mereka dengan setia mengintai. Pada awalnya mereka nilai bahwa kegigihan Sisyphus terlalu muluk. Namun ketika batu itu berhasil merangkak, segera mereka sebarkan kabar tersebut. Pertemuan yang melingkarkan para perwakilan masyarakat berlangsung dengan satu tuju; Sisyphus benar-benar harus habis. Tak pernah mudah menanggung dosa pembunuhan; namun selalu ada cara untuk menjaga tangan tetap bersih. Mereka sepakati bahwa Sisyphus akan dijatuhi hukuman mati melalui berbagai prosedur formal. Kelompok-kelompok telah dibentuk sesuai tugas yang akan mereka emban; meringkus Sisyphus, mengadilinya, hingga memungkasi. Tim eksekutor ditunjuk dengan undian acak; identitas mereka akan ditutupi. Usai segala persiapan rampung, tibalah waktu untuk badai menimpa Sisyphus.

Ia ditemukan tengah merangkak tepat di muka gerbang kaki gunung; perjalanan baru akan menanjak baginya. Sisyphus yang terancam meronta melawan, rahangnya terus mengigit tali yang jadi satu-satunya penyelamat agar tak dibawa pergi. Berbagai cara telah diupayakan oleh tim penangkap, namun tak berhasil pisahkan Sisyphus dari batu tersebut. Tali tak dapat diputuskan sementara pancang telah terpaku erat. Tak ingin mengacaukan rangkaian eksekusi dengan terlambat meringkus Sisyphus, alhasil mereka seret Sisyphus beserta bongkah batu yang tak sesaat pun ia kendurkan cengkram.

Di alun-alun, riuh masyarakat telah menanti Sisyphus. Sergah makian tak putus terlontarkan. Di tengah lapang, berdiri tiang-tiang genting yang memayungi meja pengadilan. Tiga orang telah duduk menanti Sisyphus, memandangi bongkah batu yang telah lama nampak. Sisyphus diarak ke hadapan mereka; kayu pasung telah menunggu lehernya.

Usai terpasung, pengadilan yang mendakwa Sisyphus resmi digelar. Seorang penuntut berdiri membacakan delik-delik yang menjerat Sisyphus. Serentetan kerusakan materil juga luka fisik dibeberkan tanpa terasa akan miliki ujung. Seorang penuntut lain kemudian memanggil serombongan saksi sekaligus korban dari terjangan batu Sisyphus. Coretan dendam terus menimpa Sisyphus tanpa sepatah kata pun ia sanggahkan; Sisyphus memilih untuk terus menggigit tali kekangnya.

Sebelum matahari jauh tergelincir persidangan Sisyphus dirampungkan. Tanpa perlu menimbang, sang hakim menyatakan Sisyphus bersalah dan harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya, yakni hukuman mati. Semua bersorai terkecuali Sisyphus dengan mulutnya yang terus terkatup. Ia tak mungkin mengelak. Segera dua orang algojo melangkah mendekati Sisyphus; kain tudung menutupi wajah mereka. Singkat perjalanan mereka tempuh dengan memain-mainkan pedang dalam genggaman. Sejenak, mereka hampiri Sisyphus dan mengelus halus tengkuk dan rambutnya; menyibakkan leher yang akan mereka tebas. Pedang teracung seiring lekuk tubuh mereka mengambil kuda-kuda. Algojo kini menanti aba-aba. Tanpa bendera maupun sahutan ketiga pengadil mensyaratkan tanda; usai bertukar tatap, mereka anggukan kepala pada algojo yang menanti. Seketika, pedang terayun dan tebas kepala Sisyphus. Bagaikan bola, kepala Sisyphus menggelinding jatuh bergulir mendekati batu yang kekangnya masih di cengkraman geraham.

Sorak-sorai letup menyambut pungkasnya Sisyphus. Takkan ada lagi ancaman batu terhadap hajat hidup mereka. Suka-ria datang menyambut meski hanya sesaat. Riuh gemuruh tak kuasa bungkam menyadari gelak-tawa yang terselip asing di antara mereka. Sisyphus semakin terbahak. Tawa Sisyphus begitu renyah sebab ia rayakan kali ketiga dirinya mencurangi kematian. Sisyphus belumlah usai.

Tak tersisa seorangpun di alun-alun tersebut. Semua orang segera lari terbirit; meninggalkan seonggok batu dan kepala yang ganjil bertahan. Sisyphus kembali tersisih dengan batu yang jadi takdirnya. Sekilas ia pertanyakan: mengapa aku tetap hidup? Namun jawabnya jelas berada di hadapannya. Batu itulah alasannya.

Sisyphus sadari satu masalah: ia sama sekali tak bisa berkutik. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya menggertakkan gerahamnya. Harus apa lagi? Pikirnya. Susah payah Sisyphus mencoba meraih pijak tanah yang tepat menempel di pipinya; membalikkan kepalanya hingga telungkup di muka. Terbenam, Sisyphus sadari bahwa ia hanya bisa bergerak dengan memakan segala suatu yang ada di depannya. Tanah tak terasa begitu buruk setelah entah berapa lama Sisyphus mengunyah. Memakan sesuatu kini terasa jadi ritme baginya, serupa mesin penggiling. Semula Sisyphus khawatir apabila segala yang ia makan hanya akan terburai tumpah dari separuh kerongkongannya. Nyatanya, setiap telan terserap utuh; menyebarkannya ke segala penjuru kepala hingga sedikit-demi-sedikit membesarkannya. Tumbuh, serupa buah. Dalam kubangan Sisyphus menyimpulkan: Jika tak bisa lagi mendorong, maka akan ku telan batu itu; biar aku jadi batu.

Gerogot Sisyphus gigih; tak henti sebelum batu itu tandas. Bagai ukir bagi pemahat, batu terkoyak serpih demi serpih. Lamban tak jadi risau; tak ada batas waktu untuk Sisyphus. Hingga tiba usai telan seluruh batu yang raksasakan kepala Sisyphus, ia pandangi gunung di pelupuk yang jauh. Apakah itu puncak yang ia tuju?