Ikan

Progresif. Di liminasa media sosial bertebaran status Whatapp yang di ketahui dari seorang guru, bernama Bu Nani. Isinya tentang segala perihal unek-uneknya menyoal kompetensi anak di sekolah yang terangkum dalam nilai rapor, inti dari deretan status tersebut bisa di sederhanakan menjadi satu kata: percaya.

Karena penasaran, ku coba mencarinya di internet dengan kata kunci “Bu Nani”. Muncul hal serupa yang ada di media sosial, namun ternyata beberapa website telah mengunggahnya 3 tahun lalu, di tahun 2019. Fenomena kenapa bisa kembali trend lagi adalah perkara lain. Serupa kesuksesan yang selalu berulang, begitupun dengan motivasi. Yang berubah hanyalah salurannya, namun konteksnya masih akan tetap sama.

Secara eksplisit, keluh-kesah guru tersebut sangat menggambarkan keresahan orangtua minoritas yang mendukung bahwa seorang anak mempunyai bakatnya yang berbeda-beda, kenapa harus pukul rata di pelajaran tertentu?. Kenapa harus ada ranking, atau murid "teladan" dengan nilai sempurna. Dunia begitu luas, kita tak pernah tahu ilmu komputer (coding) akan menjadi sebuah pekerjaan di masa depan, bahkan telah mengambil alih dunia ini melalui kanal sistem informasi, atau bahkan menjadi salah satu disiplin ilmu utama untuk menerbangkan roket ke Mars, membuat koloni manusia baru di sana.

Tapi, berbeda bagi kelompok mayoritas yang percaya jika anaknya mempunyai nilai jelek, mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat, atau bila sedikit beruntung akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan dengan nilai gaji pas-pasan, menaikan derajat keluarga akan sulit tercipta. Beban di tanggung semuanya oleh anak, nilai rapor menjadi harapan-harapan kesuksesan di masa depan. Ini seperti perjudian, saat dadu di lempar belum tentu angka yang di harapkan keluar.

Aku selalu yakin bahwa semua keputusan yang kita ambil bersumber dari referensi, yang akan membangun sebuah knowledge (pengetahuan). Akan sulit memaksa seorang ayah yang berprofesi sebagai pedagang nasi goreng untuk mengkalkulasi bahan bakar peluncuran roket. Begitu pula sulit untuk menuntut anak mendapatkan nilai sempurna, jika mereka tak pernah di kenalkan bagaimana dunia ini bekerja.

Sejak dini kita tidak pernah di perkenalkan jika ada seorang arab menulis buku kedokteran modern pertama, bernama Ibnu Sina. Di waktu yang sama, daerah Skandinavia masih perang menghunus tombak dengan jirah besi, disebut sebagai bangsa Viking yang sekaligus mencipta partitur musik pertama. Atau buku Mukadimah yang menjadi pegangan para pakar sosiolog (ilmu sosial), buku yang di tulis oleh historian besar bernama Ibnu Khaldun. Di waktu yang sama pula Eropa sedang dalam periode keemasan yang di kenal sebagai masa Renaissance, dari sana kita tahu bagaimana sebuah keindahan di tafsirkan. Daerah Asia? kertas pertama di pintal dari serat batang ganja di China. Indonesia sendiri? Nenek moyang kita memang seorang pelaut, mereka membelah samudra ke Afrika Selatan bermodalkan ilmu astronomi.

Kini, apa yang para orangtua harapkan ternyata hanya nilai bagus untuk semua pelajaran, tak ada pengetahuan yang bersumber dari referensi sebagai acuan. Di tambah opini publik yang menjadi bara dalam sekam, bahwa nilai anak adalah cermin dari keluarga di masa depan. Kemampuan dari bakat anak yang menyukai Ilmu Pasti bisa berkurang hanya karena nilai keseniannya harus bagus juga. Begitupun sebaliknya. Kita melewatkan fase di mana bakat dari anak dapat menjadi penerus/pencipta ilmu pengetahuan baru. Membawa ide-ide baru. Jadi sebenarnya sederhana, yang kita harus yakini hanya satu; percaya kepada mereka untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.

Sewaktu Einstein masih kecil, ia sudah mendapat masalah, yaitu di keluarkan dari sekolah, ibunya tidak memarahi namun membimbing keingintahuan anaknya. Disanalah peran orangtua untuk yakin dan percaya bahwa ikan tak pernah memanjat pohon, tak pernah pula mahir merayap seperti cecak. Namun, ikan begitu cakap untuk berenang bebas, separti imajinasi anak yang tak pernah terbatas.