Cover photo

Dari Bronkhitis ke Blockchain: Perjalanan Hidup Saya

Sebuah kisah tentang diam yang berjuang, doa yang bekerja, kehilangan yang menyakitkan, dan keyakinan yang akhirnya berbuah nyata.


Saya lahir di keluarga yang berkecukupan dan penuh kasih sayang.
Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Ibu saya seorang guru, sosok sabar dan penuh keteguhan yang mengajarkan arti tanggung jawab dan kejujuran sejak kecil.
Ayah saya bekerja di dunia pelayaran, dan karena profesinya, beliau jarang pulang — biasanya hanya sekali dalam setahun.

Sejak kecil, saya dikenal pendiam dan sangat introvert.
Saya jarang bicara, tapi saya memperhatikan. Saya peduli — terutama kepada kakak dan adik saya.
Saya tidak banyak menunjukkan kasih sayang lewat kata, tapi selalu berusaha menunjukkannya lewat tindakan kecil yang berarti.

Saya juga pernah mengalami bronkhitis kronis di masa kecil — masa sulit yang mengajarkan saya arti doa, kesabaran, dan cinta tanpa syarat dari seorang ibu.
Dari sana saya belajar bahwa kadang, kekuatan terbesar tumbuh dari kesunyian.


🕌 Masa Pesantren

Setelah lulus SD, saya melanjutkan pendidikan di pesantren sambil sekolah MTS di Tasikmalaya selama tiga tahun.
Sebagai anak pendiam, hidup di pesantren yang padat bukan hal mudah.

Tapi di situlah saya belajar banyak hal:

  • Disiplin waktu dari subuh hingga malam,

  • Kemandirian dan tanggung jawab pribadi,

  • Dan bagaimana kesederhanaan melahirkan rasa syukur.

Saya menyadari bahwa diam bukan berarti tidak bergerak.
Justru dalam kesunyian, kita sering menemukan arah yang paling jernih.


Masa Remaja dan Awal Perjuangan

Setelah pesantren, saya melanjutkan sekolah di SMA di Ciamis.
Saya sangat menyukai sepak bola, dan hampir setiap sore bermain bersama teman sekampung.
Dari lapangan sederhana itu, saya belajar tentang kerja sama, sportivitas, dan semangat pantang menyerah.

Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan di sekolah pelayaran di Cirebon selama tiga tahun dan menjalani magang di Palembang selama tiga bulan.
Itu masa di mana saya benar-benar belajar arti disiplin dan tanggung jawab.


Setelah Lulus — Rasa Bersalah dan Tekad Baru

Setelah lulus kuliah, kenyataan tidak seindah harapan.
Saya tidak langsung mendapat pekerjaan, sementara biaya kuliah saya besar — hampir ratusan juta rupiah dikorbankan oleh orang tua.

Saya sempat berpikir,

“Untuk apa semua ini kalau saya malah jadi beban bagi mereka?”

Tapi dari perasaan bersalah itu, lahir tekad baru.
Saya berjanji pada diri sendiri,

“Saya akan bangkit. Saya akan mencari jalan sendiri, dan membuktikan dalam diam.”

Dan di saat itu, takdir mempertemukan saya dengan dunia baru — crypto.


💎 Awal Kenal Dunia Crypto

Tahun 2021, saya pertama kali membeli token Shiba Inu dengan modal kecil — hanya 100 ribu rupiah.
Keesokan harinya, harganya naik dan saya profit 50%.
Bagi orang lain mungkin kecil, tapi bagi saya itu momentum besar.

Saya berkata dalam hati:

“Crypto bisa mengubah segalanya — asal saya sabar dan mau belajar.”

Sejak saat itu, saya mulai mendalami blockchain, DeFi, tokenomics, dan strategi airdrop.
Saya belajar sendiri, jatuh bangun, tapi tidak pernah berhenti.


❤️ Tentang Cinta yang Tumbuh Bersama

Sebelum benar-benar fokus ke crypto, saya juga belajar tentang cinta.

Beberapa kali saya menjalin hubungan, tapi tidak pernah benar-benar srek.

Hingga akhirnya, di masa SMA di Ciamis, saya bertemu seseorang yang berbeda.

Dia memahami sisi pendiam saya tanpa memaksa saya untuk berubah.

Kami tumbuh bersama, saling menguatkan, dan sekarang sudah empat tahun bersama serta bertunangan. ❤️

Bersamanya, saya belajar bahwa cinta sejati tidak perlu banyak kata — cukup kesetiaan dan ketulusan yang konsisten.


🚀 Dunia Airdrop: Dari Tidak Elig ke Bangkit Lagi

Awal saya ikut airdrop tidak mudah.
Saya sering tidak elig, hasil kecil, bahkan kadang rugi waktu dan biaya.
Tapi saya tetap tekun, riset, dan konsisten belajar dari setiap kesalahan.

Dan perlahan, hasil mulai datang.

  • Arbitrum menjadi titik balik pertama saya, dengan hasil sekitar 20 juta rupiah — buah dari kesabaran dan kerja keras yang tidak terlihat orang lain.

  • Setelah itu, saya ikut ICO Sui dengan sistem vesting 12 bulan, yang mengajarkan arti percaya pada proses jangka panjang.

  • Namun, tidak lama kemudian, wallet saya diretas dan saya kehilangan hampir 10 juta rupiah dalam bentuk USDT akibat seed phrase bocor. Kehilangan itu berat, tapi justru menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keamanan dan tanggung jawab di dunia crypto.

  • Setelah semua naik turun itu, akhirnya saya kembali bangkit dan mendapatkan airdrop dari Linea — momen yang menjadi simbol kebangkitan saya setelah sempat jatuh.

Dari semua pengalaman itu, saya belajar satu hal penting:

“Crypto bukan tentang cepat kaya, tapi tentang kesabaran, riset, dan keyakinan bahwa hasil besar akan datang di waktu yang tepat.”


🌅 Bangkit, Bersyukur, dan Terus Melangkah

Kehilangan tidak membuat saya berhenti — justru memperkuat tekad saya untuk lebih hati-hati dan lebih bijak.
Saya memperbaiki sistem keamanan wallet, belajar manajemen risiko, dan terus aktif dalam komunitas Web3.

Kini, di usia 23 tahun, saya sudah melewati banyak fase — dari tidak elig, kehilangan wallet, hingga akhirnya bangkit lewat airdrop besar.
Saya bisa membeli motor dan rumah di perumahan, tapi yang paling berharga adalah:
saya bisa membuat orang tua saya tersenyum bangga.


Rasa Syukur dan Terima Kasih yang Mendalam

Dalam setiap langkah — dari sakit hingga sehat, dari gagal hingga berhasil — saya menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya.

Terima kasih, Ya Tuhan,
atas kekuatan yang lahir dari kesedihan,
atas cahaya yang Kau beri di tengah gelap,
dan atas cinta yang Kau titipkan lewat orang-orang terdekat saya.


Saya juga ingin mengucapkan terima kasih terdalam kepada kedua orang tua saya.

Terkadang aku merasa kata “terima kasih” terlalu kecil untuk menggambarkan semua yang sudah engkau lakukan.
Sejak aku kecil, engkau selalu ada di sisiku — saat aku sakit, saat aku menangis, saat aku ingin menyerah.
Engkau tidak pernah marah ketika aku gagal, bahkan di saat aku membuatmu khawatir.
Engkau hanya tersenyum dan berkata pelan, “Tidak apa-apa, Nak. Coba lagi besok.”

Aku tahu, setiap kali aku tidur, engkau masih terjaga — berdoa diam-diam agar anakmu yang pendiam ini bisa kuat menghadapi hidup.
Engkau tidak pernah meminta apa pun dariku, tapi diam-diam aku tahu,
yang engkau ingin lihat hanyalah aku bisa berdiri, tersenyum, dan bahagia.

Untuk Ibu,
terima kasih atas doa yang tidak pernah berhenti dan kesabaran yang tiada batas.
Engkau adalah alasan saya tidak pernah menyerah.

Untuk Ayah,
terima kasih atas kerja kerasmu di laut, menahan rindu demi keluarga.
Engkau mungkin jarang di rumah, tapi semangatmu selalu hidup di dalam saya.

Aku mencintai kalian,
lebih dari apa pun yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. ❤️

Saya bukan anak yang banyak bicara, tapi setiap keberhasilan ini adalah bentuk cinta dan rasa terima kasih saya untuk kalian. ❤️


💬 Penutup

Hidup saya bukan kisah sempurna.
Saya pernah jatuh, kehilangan, gagal, bahkan merasa tidak berguna.
Tapi saya belajar satu hal:

“Selama kamu tidak berhenti berjalan, Tuhan akan terus membuka jalan.”

Untuk kamu yang sedang berjuang — di crypto, karier, atau kehidupan:
jangan berhenti hanya karena hasilmu belum terlihat.
Setiap kegagalan, setiap kehilangan, bahkan setiap wallet yang diretas,
adalah bagian dari proses menuju versi terbaik dari dirimu sendiri.

Teruslah belajar, teruslah bersyukur, dan percayalah —
suatu hari nanti, perjalananmu akan menjadi kisah yang layak dibagikan. 🌙


Created by: cruzl.eth (Fauzan Hidayatulloh)