Penulis rasa dan jiwa di era terdesentralisasi. Membawa cerita dari akar budaya, memadukannya dengan masa depan digital.


Share Dialog
Share Dialog
Penulis rasa dan jiwa di era terdesentralisasi. Membawa cerita dari akar budaya, memadukannya dengan masa depan digital.

Subscribe to SHINE EVERYDAY

Subscribe to SHINE EVERYDAY
Mereka bilang semua bisa disimpan di cloud.
Tapi bagaimana dengan kenangan yang tidak pernah tercipta?
Namaku Niv. Aku ilmuwan, spesialis neuro-perasa. Ironisnya, aku meneliti rasa, tapi sudah lama tidak benar-benar merasakannya.
Aku hidup sendiri. Apartemenku berada di lantai 172 sebuah gedung bertingkat dua ratus. Segala sesuatu dijalankan otomatis: makan, mandi, bahkan terapi kejiwaan. Aku punya dua robot rumah tangga dan satu asisten AI yang selalu siap memproses jawabanku bahkan sebelum aku sempat berpikir.
Hari-hariku rapi. Terstruktur. Dingin.
Sampai seminggu lalu, aku mengalami mimpi yang aneh. Bukan seperti halusinasi visual yang biasanya disuntikkan sistem NeuroRelief malam hari. Ini berbeda.
Aku bermimpi sedang duduk di rumah kayu tua, dengan suara hujan yang jatuh di atas atap seng. Ada aroma kayu basah, dan... seseorang memanggilku dengan suara lembut. Aku menoleh. Tapi sebelum sempat melihat wajahnya—aku terbangun.
Tidak ada data di otakku tentang tempat itu. Tidak ada file suara atau rekaman dalam neural memory-ku. Tapi rasanya begitu nyata, seolah... aku pernah di sana.
Dan itulah alasan mengapa aku ada di sini sekarang.
Aku mematikan sistem pelacak, meninggalkan kota, dan menuju ke arah tenggara. Ke pegunungan Dieng. Ke sebuah rumah tua milik keluargaku yang sudah lama kami tinggalkan.
Perjalanan dengan kereta api memakan waktu 3 jam. Sisa 1 jam terakhir kulanjutkan dengan mobil roda manual, karena daerah ini tidak masuk dalam jalur urban.
Saat aku tiba, matahari baru saja terbenam. Rumah kayu itu berdiri di antara kabut. Retak di sana-sini, tapi masih kokoh. Ada pohon rambutan di sampingnya, dan sumur tua yang menampung air hujan.
Aku masuk pelan-pelan. Tidak ada sinyal. Tidak ada respons dari jam tanganku. Tapi... jantungku berdetak. Rasanya... hidup.
Di dalam rumah, aku menemukan buku tua dengan sampul coklat lusuh. Tulisan tangan di halaman depan menyapa: Reksa Jiwa. Ramuan kuno untuk membangkitkan rasa. Kata Mbah Jati, eyangku, ramuan ini bisa membangkitkan kembali rasa manusia yang tertimbun oleh sistem.
Aku tahu ini bukan ilmu yang bisa diterima akademi neuro-AI. Tapi, entah kenapa, aku percaya.
Dengan menggunakan NanoBoil—alat pemanas herbal portabel—dan AR Reader di lensa mataku, aku memproyeksikan langkah-langkahnya dalam bentuk hologram.
Aku mencari bahan-bahan di sekitar rumah: kantong semar, jahe gunung, bunga telang biru, dan air dari gentong tanah di belakang rumah.
Tanganku gemetar saat menuangkan bahan terakhir. Saat uapnya mulai naik perlahan, aroma yang asing langsung menyergapku. Tidak bisa dideteksi oleh sistem pengenal aroma digital di dalam AR Reader. Terlalu... kompleks. Terlalu manusia.
Aku meneguknya pelan. Hangat. Tapi kehangatannya bukan hanya di tenggorokan. Ada ledakan pelan—di dada. Seperti sesuatu yang sudah lama terkunci akhirnya meledak keluar.
Dan tiba-tiba... aku melihat mereka.
Seorang perempuan menyisir rambutku. Laki-laki tertawa memelukku dari belakang. Aku—kecil, duduk di pangkuan mereka. Ada suara tawa. Ada lagu yang tidak kukenal tapi menggetarkan hatiku.
Itu... bukan dari file simpanan. Bukan rekaman virtual.
Itu... kenangan. Atau setidaknya, perasaan akan kenangan.
Aku tidak tahu harus percaya pada apa. Tapi air mata jatuh tanpa permisi.
Ini bukan bug. Ini bukan glitch.
Ini rindu.
Tiba-tiba, jam holografik di pergelangan tanganku menyala merah. Sebuah peringatan muncul.
📡 'Peringatan Deteksi Anomali Emosional Tingkat 5' 📍 'Lokasi tidak terdaftar dalam sistem' 🛸 'Drone pengawasan dikirim'
Aku panik.
Dari balik jendela, kudengar suara mesin mendengung. Satu drone hitam melayang rendah di langit, berhenti tepat di atas rumah tua ini. Lampu birunya berkedip menyorot wajahku.
Suaranya mesin yang dingin.
“Subjek menunjukkan perubahan afektif ekstrem. Memori afiliasi terpicu. Aktivasi protokol reset disarankan.”
Tanganku mengepal.
“Tidak.” kataku pelan. “Aku memilih mengingat.”
Untuk pertama kalinya... aku memilih jadi manusia, bukan sistem. Drone itu pergi, setelah aku diam dan menetralkan perasaaanku untuk sesaat.
Aku kembali masuk rumah. Angin mendesir. Buku Reksa Jiwa yang tadi kuletakkan di meja—bergerak sendiri. Halamannya berputar cepat, lalu berhenti di satu halaman baru.
Tertulis di sana:
Langkah berikutnya: Temukan rasa yang kau lupakan.
Dan di bawahnya... secarik kertas usang dengan coretan pena seperti memberi pesan rahasia, Dengan satu kalimat yang membuatku bergidik:
“Untuk Tavindra.”
Aku membeku.
Siapa Tavindra?
Aku tidak mengenal nama itu.
Belum.
BERSAMBUNG
Mereka bilang semua bisa disimpan di cloud.
Tapi bagaimana dengan kenangan yang tidak pernah tercipta?
Namaku Niv. Aku ilmuwan, spesialis neuro-perasa. Ironisnya, aku meneliti rasa, tapi sudah lama tidak benar-benar merasakannya.
Aku hidup sendiri. Apartemenku berada di lantai 172 sebuah gedung bertingkat dua ratus. Segala sesuatu dijalankan otomatis: makan, mandi, bahkan terapi kejiwaan. Aku punya dua robot rumah tangga dan satu asisten AI yang selalu siap memproses jawabanku bahkan sebelum aku sempat berpikir.
Hari-hariku rapi. Terstruktur. Dingin.
Sampai seminggu lalu, aku mengalami mimpi yang aneh. Bukan seperti halusinasi visual yang biasanya disuntikkan sistem NeuroRelief malam hari. Ini berbeda.
Aku bermimpi sedang duduk di rumah kayu tua, dengan suara hujan yang jatuh di atas atap seng. Ada aroma kayu basah, dan... seseorang memanggilku dengan suara lembut. Aku menoleh. Tapi sebelum sempat melihat wajahnya—aku terbangun.
Tidak ada data di otakku tentang tempat itu. Tidak ada file suara atau rekaman dalam neural memory-ku. Tapi rasanya begitu nyata, seolah... aku pernah di sana.
Dan itulah alasan mengapa aku ada di sini sekarang.
Aku mematikan sistem pelacak, meninggalkan kota, dan menuju ke arah tenggara. Ke pegunungan Dieng. Ke sebuah rumah tua milik keluargaku yang sudah lama kami tinggalkan.
Perjalanan dengan kereta api memakan waktu 3 jam. Sisa 1 jam terakhir kulanjutkan dengan mobil roda manual, karena daerah ini tidak masuk dalam jalur urban.
Saat aku tiba, matahari baru saja terbenam. Rumah kayu itu berdiri di antara kabut. Retak di sana-sini, tapi masih kokoh. Ada pohon rambutan di sampingnya, dan sumur tua yang menampung air hujan.
Aku masuk pelan-pelan. Tidak ada sinyal. Tidak ada respons dari jam tanganku. Tapi... jantungku berdetak. Rasanya... hidup.
Di dalam rumah, aku menemukan buku tua dengan sampul coklat lusuh. Tulisan tangan di halaman depan menyapa: Reksa Jiwa. Ramuan kuno untuk membangkitkan rasa. Kata Mbah Jati, eyangku, ramuan ini bisa membangkitkan kembali rasa manusia yang tertimbun oleh sistem.
Aku tahu ini bukan ilmu yang bisa diterima akademi neuro-AI. Tapi, entah kenapa, aku percaya.
Dengan menggunakan NanoBoil—alat pemanas herbal portabel—dan AR Reader di lensa mataku, aku memproyeksikan langkah-langkahnya dalam bentuk hologram.
Aku mencari bahan-bahan di sekitar rumah: kantong semar, jahe gunung, bunga telang biru, dan air dari gentong tanah di belakang rumah.
Tanganku gemetar saat menuangkan bahan terakhir. Saat uapnya mulai naik perlahan, aroma yang asing langsung menyergapku. Tidak bisa dideteksi oleh sistem pengenal aroma digital di dalam AR Reader. Terlalu... kompleks. Terlalu manusia.
Aku meneguknya pelan. Hangat. Tapi kehangatannya bukan hanya di tenggorokan. Ada ledakan pelan—di dada. Seperti sesuatu yang sudah lama terkunci akhirnya meledak keluar.
Dan tiba-tiba... aku melihat mereka.
Seorang perempuan menyisir rambutku. Laki-laki tertawa memelukku dari belakang. Aku—kecil, duduk di pangkuan mereka. Ada suara tawa. Ada lagu yang tidak kukenal tapi menggetarkan hatiku.
Itu... bukan dari file simpanan. Bukan rekaman virtual.
Itu... kenangan. Atau setidaknya, perasaan akan kenangan.
Aku tidak tahu harus percaya pada apa. Tapi air mata jatuh tanpa permisi.
Ini bukan bug. Ini bukan glitch.
Ini rindu.
Tiba-tiba, jam holografik di pergelangan tanganku menyala merah. Sebuah peringatan muncul.
📡 'Peringatan Deteksi Anomali Emosional Tingkat 5' 📍 'Lokasi tidak terdaftar dalam sistem' 🛸 'Drone pengawasan dikirim'
Aku panik.
Dari balik jendela, kudengar suara mesin mendengung. Satu drone hitam melayang rendah di langit, berhenti tepat di atas rumah tua ini. Lampu birunya berkedip menyorot wajahku.
Suaranya mesin yang dingin.
“Subjek menunjukkan perubahan afektif ekstrem. Memori afiliasi terpicu. Aktivasi protokol reset disarankan.”
Tanganku mengepal.
“Tidak.” kataku pelan. “Aku memilih mengingat.”
Untuk pertama kalinya... aku memilih jadi manusia, bukan sistem. Drone itu pergi, setelah aku diam dan menetralkan perasaaanku untuk sesaat.
Aku kembali masuk rumah. Angin mendesir. Buku Reksa Jiwa yang tadi kuletakkan di meja—bergerak sendiri. Halamannya berputar cepat, lalu berhenti di satu halaman baru.
Tertulis di sana:
Langkah berikutnya: Temukan rasa yang kau lupakan.
Dan di bawahnya... secarik kertas usang dengan coretan pena seperti memberi pesan rahasia, Dengan satu kalimat yang membuatku bergidik:
“Untuk Tavindra.”
Aku membeku.
Siapa Tavindra?
Aku tidak mengenal nama itu.
Belum.
BERSAMBUNG
<100 subscribers
<100 subscribers
No activity yet