Penulis rasa dan jiwa di era terdesentralisasi. Membawa cerita dari akar budaya, memadukannya dengan masa depan digital.


Share Dialog
Share Dialog
Penulis rasa dan jiwa di era terdesentralisasi. Membawa cerita dari akar budaya, memadukannya dengan masa depan digital.

Subscribe to SHINE EVERYDAY

Subscribe to SHINE EVERYDAY
Aku belum pernah merasa seperti ini.
Tubuhku masih duduk bersila di ruang tengah rumah, diterangi cahaya redup dari lampu tenaga surya di sudut langit-langit. Di hadapanku, gelas tanah liat yang barusan kuteguk isinya, masih mengepulkan sisa hangat.
Rasanya getir, seperti campuran akar dan air hujan yang lupa disimpan. Tapi... ada sesuatu yang lebih aneh dari sekadar rasa. Saat cairan itu turun ke kerongkonganku, ada semacam gelombang halus yang menyapu dalam dada. Dingin… lalu hangat… lalu, tiba-tiba…
Aku ingin menangis.
Entah kenapa. Tidak ada alasan logis. Tidak ada perintah dari sistem otakku. Tapi air mata ini jatuh begitu saja.
Apakah ini... perasaan?
Suara lembut yang sudah lama tidak kudengar terngiang lagi—suara Ibu. Wajah Ayah. Aroma kayu basah dari pelukan masa kecilku. Semua datang bersamaan, membanjiri pikiranku yang selama ini tertutup lapisan data dan kebiasaan.
Tapi sebelum aku bisa memahami semua itu bunyi dengung tajam menyayat malam yang tenang.
“Zztttt... Vhmmm... Scanning initiated.”
Kepalaku menoleh refleks. Di luar jendela, sebuah drone berbentuk seperti orb melayang pelan. Warnanya hitam pekat, dengan sorot biru kehijauan dari lensa pengintainya. Aku langsung berdiri.
Drone ini bukan drone biasa. Ini DRS-9, tipe pemantau emosi dari sistem pusat kota. Mereka hanya dikirim saat ada anomali perasaan yang terdeteksi dari chip neuro yang ditanam di setiap warga sejak 2039.
Tapi... aku pikir chip-ku sudah rusak sejak kupindah ke pegunungan.
Kenapa mereka tahu?
Terdengar suara dingin dari drone.
"Subjek: Anvaya Nivrita. Level emosi meningkat di luar ambang batas.
Deteksi: Rasa – Tidak Terdefinisi. Mengaktifkan protokol verifikasi."
Mataku membelalak.
Mereka akan tahu. Mereka akan ambil aku. Mereka akan reset pikiranku.
Aku mundur, terengah. Pintu rumah ini tua, tak akan menahan serangan apapun. Tapi aku juga tak bisa lari ke mana-mana di tengah malam begini.
Aku harus sembunyi. Harus.
Tiba-tiba suara itu muncul. Tapi bukan dari drone. Dari dalam rumah.
Suara tua, dalam, dan seperti berasal dari balik dinding kayu.
“Kamu sudah membukanya, Niv... Tak ada jalan kembali. Tapi kau bisa mengusir drone itu sementara waktu. Netralkan perasaan. Bernafaslah dengan tenang.”
Aku membeku.
Siapa itu?
BERSAMBUNG
Aku belum pernah merasa seperti ini.
Tubuhku masih duduk bersila di ruang tengah rumah, diterangi cahaya redup dari lampu tenaga surya di sudut langit-langit. Di hadapanku, gelas tanah liat yang barusan kuteguk isinya, masih mengepulkan sisa hangat.
Rasanya getir, seperti campuran akar dan air hujan yang lupa disimpan. Tapi... ada sesuatu yang lebih aneh dari sekadar rasa. Saat cairan itu turun ke kerongkonganku, ada semacam gelombang halus yang menyapu dalam dada. Dingin… lalu hangat… lalu, tiba-tiba…
Aku ingin menangis.
Entah kenapa. Tidak ada alasan logis. Tidak ada perintah dari sistem otakku. Tapi air mata ini jatuh begitu saja.
Apakah ini... perasaan?
Suara lembut yang sudah lama tidak kudengar terngiang lagi—suara Ibu. Wajah Ayah. Aroma kayu basah dari pelukan masa kecilku. Semua datang bersamaan, membanjiri pikiranku yang selama ini tertutup lapisan data dan kebiasaan.
Tapi sebelum aku bisa memahami semua itu bunyi dengung tajam menyayat malam yang tenang.
“Zztttt... Vhmmm... Scanning initiated.”
Kepalaku menoleh refleks. Di luar jendela, sebuah drone berbentuk seperti orb melayang pelan. Warnanya hitam pekat, dengan sorot biru kehijauan dari lensa pengintainya. Aku langsung berdiri.
Drone ini bukan drone biasa. Ini DRS-9, tipe pemantau emosi dari sistem pusat kota. Mereka hanya dikirim saat ada anomali perasaan yang terdeteksi dari chip neuro yang ditanam di setiap warga sejak 2039.
Tapi... aku pikir chip-ku sudah rusak sejak kupindah ke pegunungan.
Kenapa mereka tahu?
Terdengar suara dingin dari drone.
"Subjek: Anvaya Nivrita. Level emosi meningkat di luar ambang batas.
Deteksi: Rasa – Tidak Terdefinisi. Mengaktifkan protokol verifikasi."
Mataku membelalak.
Mereka akan tahu. Mereka akan ambil aku. Mereka akan reset pikiranku.
Aku mundur, terengah. Pintu rumah ini tua, tak akan menahan serangan apapun. Tapi aku juga tak bisa lari ke mana-mana di tengah malam begini.
Aku harus sembunyi. Harus.
Tiba-tiba suara itu muncul. Tapi bukan dari drone. Dari dalam rumah.
Suara tua, dalam, dan seperti berasal dari balik dinding kayu.
“Kamu sudah membukanya, Niv... Tak ada jalan kembali. Tapi kau bisa mengusir drone itu sementara waktu. Netralkan perasaan. Bernafaslah dengan tenang.”
Aku membeku.
Siapa itu?
BERSAMBUNG
<100 subscribers
<100 subscribers
No activity yet