Aku belum pernah merasa seperti ini. Tubuhku masih duduk bersila di ruang tengah rumah, diterangi cahaya redup dari lampu tenaga surya di sudut langit-langit. Di hadapanku, gelas tanah liat yang barusan kuteguk isinya, masih mengepulkan sisa hangat. Rasanya getir, seperti campuran akar dan air hujan yang lupa disimpan. Tapi... ada sesuatu yang lebih aneh dari sekadar rasa. Saat cairan itu turun ke kerongkonganku, ada semacam gelombang halus yang menyapu dalam dada. Dingin… lalu hangat… lalu, ...